Kamis, 21 Agustus 2014

Gampang Susah Berburu Rumah Sewaan di Belanda

Boleh jadi menyewa rumah di negara tujuan studi adalah agenda utama yang harus disiapkan begitu kita mendapatkan approval untuk datang dan memulai studi di luar negeri. Tak terkecuali bagi yang akan datang untuk studi di Belanda. Berburu rumah, kamar maupun apartemen seawal mungkin wajib dilakukan agar kita tidak terkatung-katung saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri Orange ini. Meski ada agen atau makelaar yang membantu memberikan pilihan, urusan akomodasi di Belanda tidak bisa digampangkan begitu saja. Banyak hal yang harus disiapkan dan membutuhkan perhatian khusus.

Jika dihitung sejak awal singgah di Belanda awal tahun 2010 lalu hingga saat tulisan ini diangkat (dengan masa jeda kembali ke Indonesia selama 1,5 tahun antara tahun 2011-2012), sudah enam kali saya berpindah dari satu rumah ke rumah sewaan yang lain. Setiap kali pindah rumah, saya selalu mendapatkan pengalaman baru, terutama cara yang harus tempuh untuk mendapatkan rumah atau apartemen tersebut. Tulisan berikut disajikan berangkat dari pengalaman saya berburu rumah sewaan di Belanda selama ini.

1. Kerkstraat, Hoogkerk, Groningen (Maret – September 2010)
Saya awali dengan rumah saya dahulu yang terletak di Kerkstraat, wilayah Hoogkerk di pinggiran Kota Groningen. Rumah ini adalah yang pertama saya tempati di Belanda. Rumah berupa studio ini dipatok dengan harga sewa 665 Euro dengan fasilitasnya yang ‘inklusif’ atau lengkap dengan segala furnitur dan perabot, serta ditanggung ongkos pemakaian listrik, air dan gasnya. Saya menyewa rumah tersebut melalui perantaraan sebuah agen bernama Housing Office (silakan ditelusuri pada web ini: http://www.housingoffice.nl/), yang saat itu menjadi semacam rekanan University of Groningen, untuk mempermudah para mahasiswa asing mendapatkan akomodasi di Groningen. Transaksi sewa menyewanya dilakukan secara online sebelum kedatangan saya di Groningen. Setelah registrasi dilakukan, pihak agen menawarkan opsi akomodasi yang bisa saya tempati melalui e-mail. Tentu saja, dengan cara ini kita tidak bisa melihat secara langsung akomodasi yang ditawarkan, kecuali dari sejumlah foto yang dilampirkan dalam e-mail. Selain itu, negosiasi dengan agen juga tidak bisa dilakukan secara intens, termasuk menawar alternatif akomodasi bila kita kurang setuju dengan opsi yang diberikan. 

Kawasan hunian di Kerkstraat, Hoogkerk, Groningen (Foto: Google Maps)
Dalam kasus saya, agen hanya memberikan satu pilihan akomodasi dan menyatakan tidak opsi lain, alias jika saya tidak mengambil tawaran itu, maka tidak ada lagi alternatif akomodasi bagi saya. Karena waktu keberangkatan ke Belanda yang sudah sangat mendesak serta terbatasnya informasi alternatif akomodasi yang saya peroleh, pilihan pada rumah tersebut akhirnya saya jatuhkan. Selain itu, keputusan saya untuk langsung membawa keluarga ke Groningen, juga memupuskan pilihan menumpang di rumah kenalan di kota tersebut. Pembayaran uang sewa bulan pertama harus dilakukan sebelum hari kedatangan saya di Belanda, yakni dengan cara mentransfer sejumlah uang melalui salah satu bank di Indonesia kepada rekening agen tersebut. Jumlah yang harus ditransfer pun banyak untuk ukuran tabungan saya. Selain terkena imbas nilai tukar Rupiah ke Euro yang cukup tinggi, saya juga diharuskan membayar deposit sebagai jaminan selama saya mendiami rumah tersebut. Nilai deposit yang dibayarkan sama dengan satu bulan sewa rumah dan akan dikembalikan utuh apabila tidak ada kerusakan atas rumah maupun perabot-perabot di dalamnya. Di Kerkstraat inilah rumah pertama di Belanda, dengan jarak kurang lebih enam kilometer dari University of Groningen dan pusat kota (centrum) serta kondisi rumah yang relatif kurang bersih. Kira-kira enam bulan lamanya saya mendiami studio yang hanya mempunyai satu kamar tersebut, hingga akhirnya saya mendapatkan rumah baru di daerah Lewenborg, Groningen.

2. Kajuit, Lewenborg, Groningen (September 2010 – Maret 2011) 
Berbeda dengan proses sewa studio saya yang pertama di atas, rumah di daerah Lewenborg, Groningen ini saya sewa setelah beberapa kali melakukan kontak langsung dengan agen rumah tersebut. Agen rumah saya kali ini adalah MVGM (silakan cek di sini: http://www.mvgm.nl/), atau teman-teman saya menyebutnya dengan Meus. Posisi saya yang saat itu sudah berada di Groningen sangat memudahkan dalam berkomunikasi sekaligus bernegosiasi dengan agen. Untuk mendapatkannya, saya cukup melakukan registrasi dan menjatuhkan pilihan lokasi rumah yang diinginkan. Selanjutnya, saya dimasukkan dalam daftar tunggu untuk rumah-rumah atau apartemen di kawasan yang saya pilih tersebut. Pilihan saya jatuh pada perumahan di kawasan Lewenborg karena harganya yang paling rendah di antara daerah perumahan lain yang ditawarkan di seputaran Kota Groningen. Selain itu, lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kampus (sekitar empat kilometer), kemudahan akses transportasi publik (bus kota datang setiap 10 menit sekali), kedekatan lokasinya dengan pusat belanja kebutuhan sehari-hari (winkelcentrum) dan dokter keluarga (huisarts) serta adanya beberapa teman yang sudah lebih dulu menghuni kawasan tersebut, juga menjadi bahan pertimbangan saya. 

Winkelcentrum di kawasan Lewenborg, Groningen
Akhir Juli 2010, pihak agen memberitahukan adanya rumah kosong di kawasan tersebut pada bulan September tahun yang sama. Saya pun dipersilakan membuat janjian dengan penyewa rumah saat itu untuk menengok keadaan rumah sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan ya atau tidak pada rumah yang ditawarkan. Jika saya bilang tidak, maka nama saya akan dikembalikan pada daftar tunggu untuk diberi penawaran rumah yang lain. Tidak perlu waktu lama, saya langsung menyatakan ya setelah puas melihat kondisi rumah yang ditawarkan. 
 
Jalan di depan rumah saya saat di Kajuit, Groningen. Rumah saya saat itu berada di deretan sebelah kiri paling dekat dengan pembaca. Bangunan rumah di depannya adalah kompleks hunian dan klinik dokter keluarga (huisarts). Ujung jalan ini terhubung dengan winkelcentrum Lewenborg.
Rumah yang harga sewanya sekitar 520 Euro per bulan ini tergolong besar, terdiri dari tiga lantai dan mempunyai empat kamar tidur yang cukup luas, satu dapur, satu ruang tamu, dua toilet, dua balkon serta sebuah garasi di lantai bawah. Saking besarnya, saya pun bisa menyewakan kamar-kamar yang tersisa kepada beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani internship atau studi di kota paling utara di Belanda ini. Meski demikian, saya tetap harus merogoh kocek tambahan guna membayar tagihan listrik, air dan gasnya per bulan. Dengan kata lain, jika tidak ingin boros, saya dan semua penghuni rumah ini harus hemat dalam menggunakan air, listrik dan gas. Sayang, rumah yang banyak meninggalkan kesan bagi saya ini harus saya tinggalkan sebelum masa sewa minimumnya habis. Sesuai aturannya, saya diwajibkan menghuni rumah tersebut minimal selama satu tahun. Karena sesuatu hal yang mengharuskan saya pulang ke Indonesia, rumah yang baru saya huni sekitar tujuh bulan itu harus saya kembalikan ke agen. Akibatnya, saya terkena penalty, diharuskan membayar uang sebesar kurang lebih 400 Euro sebagai kompensasinya.

3. E. du Perronlaan, Delft (September 2012)
Awal September 2012, saya kembali lagi ke Belanda dan di alamat inilah saya tinggal untuk yang pertama kalinya di Kota Delft. Inilah fasilitas akomodasi tersingkat yang pernah saya singgahi di Belanda. Kali ini bukan sebuah rumah atau studio, namun sebuah kamar dengan fasilitas dapur dan toilet bersama beberapa kawan dari Indonesia. Saya mendapatkan kamar sewaan ini dengan harga yang terbilang murah untuk kota padat seperti Delft, yakni hanya sekitar 300an Euro sebulan. Rumah ini sejatinya disewa oleh kawan saya, sehingga status saya saat itu boleh dibilang adalah sub-tenant, penyewa dari seorang penyewa. 
 
Apartemen di E. du Perronlaan, Delft. Kamar saya yang berada di lantai 13 membuat saya leluasa memandangi Delft dari gedung yang tinggi menjulang tersebut.
Menjelang keberangkatan saya ke Delft untuk melanjutkan studi, yang ada di benak saya adalah mencari kos-kosan yang murah, mengingat saya datang sendiri tanpa keluarga dan dengan bekal beasiswa yang relatif kecil dibandingkan standar gaji seorang promovendus di Belanda. Untungnya, bekal pengalaman hidup di Groningen sebelumnya cukup membuat saya merasa lebih berpengalaman dalam merencanakan kehidupan saya di Delft. Lewat kawan saya, saya akhirnya mendapatkan kamar yang terletak di jalan E. du Perronlaan, Delft. Lingkungannya cukup menyenangkan, tidak begitu jauh dari kampus TU Delft dan kompleks perbelanjaan untuk kehidupan sehari-hari. Namun sayang, rencana untuk tinggal lebih lama di ‘kos-kosan’ murah ini tidak berumur panjang. Status sub-tenant membuat saya tidak diperbolehkan melaporkan kedatangan saya ke Gemeente atau pemerintah Kota Delft, karena saya tidak mempunyai bukti surat kontrak menyewa rumah atau kamar. Perlu untuk diketahui, lapor diri ke Gemeente adalah prosedur wajib bagi setiap warga atau mahasiswa asing yang baru saja datang di Belanda. Akhirnya, setelah satu bulan menghuni kamar ini, saya hengkang dan mencari kamar baru untuk saya tinggali.

4. Leeghwaterstraat, Delft (Oktober 2012 – Mei 2013)
Tidak ingin berlama-lama dengan masalah lapor diri ke Gemeente, saya segera mencari kamar atau studio baru untuk saya tinggali di Kota Delft. Cara paling cepat adalah menggunakan agen yang menjadi mitra kampus, DUWO namanya (silakan cek di sini: https://www.duwo.nl/). Lewat proses yang mirip dengan saat saya mendapatkan studio pertama di Groningen, saya akhirnya dapat menghuni studio kecil yang lokasinya berada di belakang kampus TU Delft dengan harga 565 Euro per bulan. Lokasinya sangat dekat dengan kampus TU Delft, cukup bersepeda lima menit saja untuk datang ke kampus setiap harinya. Hanya saja, akses menuju ke pusat kota (centrum) dan tempat belanja kebutuhan sehari-hari harus ditempuh minimal 15 menit bersepeda. Harga studio tersebut juga relatif mahal, tetapi fasilitas studio kubus lima lantai yang saya tempati ini mirip sebuah mini-hotel: ada TV dengan channel melimpah, toilet dan dapur sendiri, koneksi internet yang luar biasa cepat, serta garasi sepeda yang aman di lantai dasar. Selain itu, berbagai perlengkapan seperti tempat tidur, matras, meja kerja serta kursi santai juga bisa dinikmati. Ongkos listrik, air dan gas juga sudah dimasukkan dalam harga sewa. Singkatnya, tinggal di studio semacam ini layaknya singgah di hotel. Hanya saja, kontrak dengan DUWO maksimal satu tahun. Artinya, bila tidak ada alasan kuat, sebelum masa satu tahun sewa berakhir, saya harus segera pindah dari fasilitas akomodasi milik DUWO. Hanya 8 bulan lamanya saya menempati studio ini sebelum akhirnya saya mendapatkan studio baru dengan harga yang lebih murah.
Bangunan student house yang unik dengan fasilitas ala mini-hotel di Delft. Letaknya berada di belakang kampus TU Delft, sehingga hanya cukup 5 menit saja untuk bersepeda menuju kampus.

5. Hugo de Grootstraat, Delft (Juni 2013 – Februari 2014) 
Studio yang berlokasi di dekat centrum dan stasiun Delft ini saya dapatkan setelah beberapa kali berburu hunian di beberapa agen yang ada di seputaran Kota Delft. Saya menemukannya dari agen atau makelaar yang bernama Homelets (silakan cek di sini: http://www.woonruimtedelft.nl/), yang letaknya berada di kawasan centrum Delft. Harga yang ditawarkan memang cukup menggiurkan, hanya 450 Euro per bulan, termasuk murah jika melihat fasilitasnya yang inklusif dan private (memiliki dapur dan toilet sendiri di setiap studionya). Meski demikian, sesuai aturannya, saya diharuskan membayar jasa agen sebesar satu kali sewa rumah plus deposit yang jumlah yang sama.  
 
Harga sewanya murah saat saya menghuni studio ini, walaupun ruang kamarnya kurang melegakan. Lokasinya yang dekat dengan stasiun utama dan centrum Delft menjadi poin positif dari hunian ini.
Orang Jawa bilang, ono rego ono rupo. Ada harga, ada bentuknya. Begitu kira-kira kalau saya terjemahkan. Harga sewa yang murah harus dibayar dengan fasilitas yang kurang lengkap dibanding studio saya sebelumnya di Leeghwaterstraat, Delft. Tidak ada fasilitas furnitur sehingga saya harus membeli sendiri barang-barang seperti tempat tidur, sofa, kursi dan peralatan dapur. Pun tidak ada garasi untuk menyimpan sepeda, sehingga sepeda harus saya letakkan fasilitas parkir di pinggir jalan, tentu saja lengkap dengan kunci besar untuk keamanannya. Tampaknya studio yang saya tempati ini dulunya adalah sebuah rumah besar dengan lima kamar. Setiap kamar kemudian dimodifikasi menjadi satu studio, sehingga bisa disewakan. Akibatnya, hampir tidak ada jarak antar studio di alamat tersebut. Sesak, dan seringkali suara tetangga sebelah terdengar hingga ke dalam studio saya. Kurang lebih sembilan bulan saya mendiami studio ini, sebelum akhirnya pindah ke kota lain untuk tinggal di rumah yang lebih besar dan memadai untuk hidup bersama istri dan anak saya.

Jalan di depan studio saya di Hugo de Grootstraat. Tidak adanya fasilitas garasi memaksa saya memarkir sepeda di fasilitas publik di pinggir jalan, tentu saja dengan kunci yang kuat untuk menangkal aksi pencurian sepeda.

6. Rotterdamsedijk, Schiedam (Maret 2014- saat ini)
Dari Kota Delft, tempat saya menjalani studi saya setiap harinya, Schiedam yang jaraknya kurang lebih 11 km bukanlah sebuah tempat yang dekat. Namun, kota inilah yang akhirnya saya pilih sebagai tempat persinggahan saya hingga saat ini. Alasannya karena rumah yang saya dapatkan harganya sesuai dengan dana beasiswa saya yang pas-pasan, yakni 666 Euro per bulan, tanpa ongkos listrik, air dan gas, namun ukurannya memadai untuk hidup bersama keluarga. Berbeda dengan cara berburu sebelumnya, rumah di alamat Rotterdamsedijk, Schiedam ini saya dapatkan setelah ‘mengambil-alih’ (take-over) sewa seorang kawan yang sudah beberapa tahun sebelumnya menyewa rumah ini. Setelah tercapai kesepakatan dengan kawan saya tadi, saya menghubungi agen yang menyewakan rumah ini (Kroonenberg Groep, silakan cek di sini: http://www.kroonenberg.nl) untuk menjalani prosedur kontraknya. Seperti proses sewa sebelumnya, saya juga berkesempatan mengunjungi rumah ini untuk melihat kondisi rumah. Transaksi sewa rumah dilakukan melalui pos, dimana agen mengirimkan paket berisi dokumen-dokumen kontrak sewa rumah tersebut kepada saya untuk dibaca dan ditandatangani. Selanjutnya, dokumen-dokumen tersebut saya kirimkan kembali kepada sang agen. 
 
Koemarkt, semacam square yang ada di depan rumah saya di Rotterdamsedijk, Schiedam. Tidak jauh dari tempat ini terdapat winkelcentrum, halte tram dan bus menuju Rotterdam dan kantor pemerintah Kota Schiedam.
Model sewa rumah dengan cara take-over dari seorang kawan seperti ini menguntungkan, karena biasanya kawan tersebut biasanya juga menjual, bahkan menghibahkan, perabot-perabot rumahnya dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Dan tentu saja, menghemat ongkos dan tenaga untuk pindahan. Meski harus mengeluarkan uang tambahan untuk transportasi menuju Delft setiap harinya, letak rumah saya yang berada di kawasan centrum Kota Schiedam ini sangat strategis dan mudah dijangkau dengan berbagai alat transportasi publik. Winkelcentrum tempat membeli kebutuhan sehari-hari letaknya hanya di seberang rumah, berikut dengan fasilitas bermain anak (playground) di sekitarnya. Setiap 10 menit sekali, tram selalu berlalu lalang di depan rumah, dengan rute menuju stasiun Rotterdam Centraal dan jantung kota metropolitan di Belanda itu.

Demikian sekelumit cerita tentang gampang susahnya berburu rumah sewaan di Belanda versi saya. Tentu saja, para pembaca sekalian mempunyai pengalaman unik dan menarik lagi mengesankan dalam berburu rumah sewaan di negeri kincir ini. Menutup tulisan ini, berikut ada beberapa tips umum yang bisa saya bagikan kepada para pembaca sekalian dalam berburu rumah sewaan di Belanda

  1. Pertimbangkan lokasi rumah dengan kampus, tempat kerja dan tempat-tempat penting lainnya. Meskipun transportasi di Belanda mudah dan bervariasi, ongkosnya tetap saja mahal. Sepeda memang bisa menjadi opsi sarana transportasi yang murah meriah, tetapi aktivitas-aktivitas berat, jarak yang jauh serta cuaca yang tidak mendukung seringkali membuat kita urung bersepeda dan akhirnya memilih menggunakan alat transportasi publik. Demikian juga jarak rumah dengan tempat berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari maupun sekolah anak bagi yang sudah berkeluarga, patut pula dipertimbangkan demi menghemat ongkos transportasi. 
  2. Jika ada kawan yang menawarkan kontrak rumah atau apartemennya untuk diambil-alih (take-over), tidak ada salahnya kesempatan emas tersebut diambil, tentu saja selama ongkos sewa bulanannya sesuai dengan budget yang kita alokasikan. Cara seperti ini bisa menghemat beberapa ratus Euro karena biasanya memerlukan biaya tambahan untuk membayar agen atau makelaar.
  3. Pentingnya surat kontrak sewa rumah, kamar atau apartemen. Surat kontrak diperlukan saat kita melaporkan diri ke Gemeente atau pemerintah kota setempat pada saat kita datang pertama kali di Belanda atau menempati hunian baru. Sehingga, upayakan menyewa rumah lewat jalur resmi, agar kita mendapatkan surat kontrak yang dimaksud. Opsi untuk menjadi sub-tenant memang murah, tetapi resikonya kita tidak dapat melakukan registrasi ke Gemeente.
  4. Pertimbangkan suasana rumah. Rumah atau kamar yang pengap, tidak mempunyai ventilator di dapur dan toilet, serta sesak tata ruangnya, rasanya kurang nyaman dan sehat untuk dihuni. Konfigurasi ruang yang sempit juga memperbesar potensi konflik dengan tetangga, karena kegaduhan kecil di satu ruang atau studio dapat merembet dengan cepat ke ruang yang lain.
  5. Private maupun sharing itu pilihan. Suka dengan fasilitas private, tentu saja harus rela membayar harga sewa yang lebih tinggi. Sebaliknya, ingin kamar dengan harga sewa super murah, tentu yang mempunyai fasilitas sharing yang hampir selalu didapat. Oleh karenanya, pertimbangkan pilihan apakah private atau sharing. Sesuaikan pilihan ini dengan pola kerja dan kehidupan pribadi. Jika justru merasa terganggu dengan aktivitas teman satu apartemen, maka tidak ada salahnya menyewa rumah atau kamar dengan fasilitas private.
  6. Bersihkan rumah dan persiapkan seperti sedia kala menjelang inspeksi akhir. Inspeksi akhir selalu dilakukan oleh agen manakala kita akan mengakhiri kontrak sewa rumah. Agen biasanya cukup teliti melihat keadaan rumah dan perabot-perabot yang disewakan (jika inklusif). Jika ada kerusakan, agen akan menarik biaya perbaikan dari deposit yang kita bayarkan saat kontrak sewa dibuat. Oleh karenanya, saat akan menyewa rumah atau masa-masa awal tinggal di rumah tersebut, ada baiknya kita mencatat semua hal terkait keadaan fisik rumah. Jika perlu ambillah foto setiap bagian rumah yang sudah rusak saat kita memasukinya. Catatan dan foto-foto ini dapat digunakan sebagai bukti bahwa kita tidak merusak fasilitas yang disewakan manakala agen menanyakan hal ini. 

Akhir kata, selamat berburu!


Minggu, 13 Juli 2014

Ramadan Tiba, Kumandang Adzan Semakin Istimewa di Belanda

Adzan sholat Jumat di Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat adzan Maghrib adalah momen yang paling dinantikan oleh setiap muslim yang menjalankan puasa di bulan Ramadan. Adzan Maghrib menjadi pertanda berakhirnya masa sehari berpuasa menahan lapar dan dahaga. Momen jelang adzan dan sholat Maghrib tak pelak menjadi istimewa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Di saat itulah mereka dapat bercengkrama di masjid atau mushola setempat, di kantor bersama teman-teman kerja maupun di rumah bersama keluarga besar sambil menantikan waktu berbuka puasa. Di banyak daerah di Indonesia, kegiatan jelang Maghrib bahkan sudah menjadi tradisi. Di Yogyakarta misalnya, dikenal istilah takjilan; sebuah acara yang diisi dengan pengajian atau ceramah keislaman menjelang adzan Maghrib dan buka puasa. Tentu saja, tradisi positif semacam ini sangat bermanfaat, karena selain membantu meningkatkan pemahaman ilmu agama, juga mempererat tali silaturrahim antar anggota masyarakat, kawan sekantor maupun keluarga besar. Kumandang adzan sebelum sholat wajib yang lain pun tidak kalah istimewanya, karena sejatinya adzan adalah pertanda waktu yang mengatur kegiatan umat Islam, baik di bulan Ramadan maupun bulan-bulan yang lainnya. 

Tidak berbeda dengan di Indonesia, adzan Maghrib maupun sholat-sholat wajib yang lain juga merupakan hal yang istimewa bagi umat Islam di Belanda. Bagi setiap muslim Indonesia yang terbiasa mendengarkan suara adzan di tanah air, adzan di Belanda menjadi sesuatu yang langka. Tidak heran bila di negeri yang hanya memiliki 5,8% penduduk muslim dari total angka populasinya ini (berdasarkan informasi dari Euro-Islam.info), lantunan adzan menjadi sesuatu yang dirindukan. Kalaupun ada masjid yang berdiri di kota-kota besar seperti Amsterdam, Den Haag dan Rotterdam, lantunan adzan tetap saja tidak serta merta bebas dikumandangkan di udara terbuka. Sang muadzin hanya bisa memperdengarkannya di dalam masjid. Hal ini menjadi pemandangan unik bagi saya saat pertama kali singgah di sebuah masjid di Belanda, yakni Masjid Eyup Sultan milik komunitas muslim Turki di Kota Groningen empat tahun silam. Pun demikian halnya dengan yang saya temui saat ini bila menjalani ibadah sholat Jumat bersama komunitas mahasiswa muslim di Technische Universiteit Delft (TU Delft) di Kota Delft dan saat sholat berjamaah di Masjid Al-Hikmah di pinggiran Kota Den Haag yang dikelola oleh masyarakat Indonesia di Belanda. Adzan, sekalipun dilantunkan di depan mikrofon, hanya terdengar di dalam masjid saja. 

Di Belanda, tiadanya adzan yang bebas dilantunkan di udara terbuka, di radio maupun televisi membuat setiap muslim yang berpuasa harus siap dengan jadwal sholat di tangan masing-masing, terutama untuk mengetahui waktu imsak sebagai penanda dimulainya puasa dan adzan Maghrib sebagai tanda berbuka setelah hampir 19 jam berpuasa. Bagi saya, hal kecil semacam ini ternyata mampu meluapkan rasa rindu pada tanah air Indonesia, dimana suasana Ramadan yang khas di lingkungan kita tinggal itu ada dan bisa dirasakan. Di Indonesia, suara adzan yang menggema seolah menjadi aroma tersendiri yang mengiringi syahdunya Ramadan. Suasana inilah yang terasa hilang saat saya berada di Belanda. Namun, apa boleh buat. Bagi saya, inilah konsekuensi yang harus dijalani dari keputusan saya beberapa tahun silam meninggalkan Indonesia dan tinggal di Belanda sementara waktu untuk melanjutkan studi di negeri kincir ini. Tentunya ada pelajaran berharga yang dapat saya petik. Ada rasa syukur yang mendalam akan tanah air Indonesia karena lantunan adzan yang selalu menggema saat waktu sholat tiba di sana dapat menjadikan diri semakin dekat secara batin kepada Sang Pencipta. Sayangnya, lantunan adzan justru sering dilupakan dan dianggap biasa saat berada di tanah air dan baru terasa istimewa saat kita berada di negeri orang dimana suara adzan adalah suatu hal yang kurang lazim didengarkan.

*) Manuskrip asli dari artikel "Saat Azan Magrib di Belanda Begitu Istimewa" yang dimuat di Detik Ramadan 2014, tanggal 13 Juli 2014 
(http://ramadan.detik.com/read/2014/07/13/090914/2635528/1598/1/saat-azan-magrib-di-belanda-begitu-istimewa)

Kamis, 17 April 2014

E-mail!

Hidup di zaman yang serba terkoneksi dengan internet sungguh memudahkan kita untuk sejenak larut dalam kehidupan di masa lalu, cukup hanya dengan duduk di depan laptop atau komputer. Sudah menjadi rahasia umum, media sosial semacam Facebook sering menjadi ajang reuni dengan para sahabat atau kawan karib di masa silam yang lama tak bersua. Demikian juga dengan e-mail. Di suatu sore yang berbalut rintik hujan, sekedar iseng saya membuka kembali puluhan surat-surat elektronik di masa lampau yang masih tersimpan dalam inbox saya. Salah satu yang membuat saya bernostalgia sejenak dengan masa lalu adalah ketika membaca surat-surat lawas dari para editor jurnal internasional yang pernah saya kirimi naskah untuk publikasi.

Peristiwa yang tersurat dalam e-mail itu terjadi sudah hampir lima tahun yang lalu. Namun, bagi saya rangkaian peristiwa inilah yang menjadi salah satu dari sekian tonggak pencapaian dalam kehidupan saya hingga sekarang. Dari ketiga surat lawas itu, dua di antaranya berisi penolakan (rejection) dari editor jurnal terhadap manuskrip tulisan yang saya buat. Sementara, satu surat lagi adalah surat dari editor jurnal terakhir yang akhirnya mau menerima tulisan saya.

Surat pertama berisi penolakan dari editor Materials Science and Engineering C (MSEC), sebuah jurnal internasional di bidang biomaterial atau material untuk aplikasi biomedik yang saat ini tengah naik daun. Impact factor, salah satu ukuran kualitas jurnal, jurnal ini saat itu bertengger di angka yang cukup lumayan untuk klaster ilmu material. Di jurnal inilah saya mengirimkan naskah saya yang pertama kali untuk publikasi di jurnal internasional. Mengapa saya pilih MSEC? Seingat saya tidak ada alasan yang jelas, kecuali karena topik tulisan yang saya susun relevan dengan topik yang diusung jurnal ini. Tulisan yang sudah susah payah saya susun berjudul “Effect of surface mechanical attrition treatment (SMAT) on microhardness, surface roughness and wettability of AISI 316L”, berisi temuan saya tentang karakteristik permukaan baja setelah mendapatkan sebuah perlakuan yang disebut SMAT. Boleh dibilang, ini adalah salah satu aksi ‘nekat’ yang pernah saya jalani bersama teman saya di kelompok penelitian kami yang baru seumur jagung waktu itu. Bagaimana tidak? Tulisan ini hanya bermodal barang-barang seadanya. Mesin yang digunakan untuk penelitian didesain sendiri oleh kawan saya dan dibangun dengan logam-logam yang mudah ditemui di pasaran. Sampel baja yang diteliti dibeli dari kios di Pasar Beringharjo, Yogyakarta – tentunya, sebelum penelitian dilakukan, sampel baja tersebut diuji komposisinya untuk memastikan apakah sesuai standar atau tidak. Pengujian sampel saya lakukan dengan peralatan serba terbatas dan tua usianya di laboratorium kampus tempat saya dan teman saya bekerja. Namun, idealisme kami ternyata masih cukup untuk menelurkan keputusan ‘nekat’ mengirimkan hasil penelitian tersebut ke jurnal internasional. Memang diakui, tetap ada keraguan di balik manuskrip tersebut, apakah diterima atau tidak. Tetapi semboyan “tidak ada salahnya mencoba” sudah merasuki kami untuk terus maju membidik jurnal internasional, yang konon sulit ditembus dengan hasil-hasil penelitian di Indonesia yang umumnya ditetaskan dengan peralatan yang terbatas.

E-mail 'rejection' dari editor Materials Science and Engineering C

Kira-kira satu bulan setelah pengiriman naskah melalui website jurnal tersebut, saya mendapatkan respon dari editor jurnal tersebut. Intinya, sang editor menolak naskah saya, meskipun disampaikan dengan bahasa yang cukup santun. Alasan penolakan manuskrip saya memang masuk akal, karena reviewer yang meneliti naskah itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di naskah yang saya tulis. Akan butuh perombakan besar untuk memperbaiki naskah tersebut sehingga sesuai dengan keinginan reviewer. Selain itu, tentunya akan ada riset tambahan yang cukup panjang namun harus dijalani untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sang reviewer. Walhasil, penolakanlah jawaban yang paling bijaksana dari sang editor.

Tidak putus harapan, setelah berdiskusi dengan kawan saya, saya mencoba mengirimkan kembali naskah tersebut ke jurnal lain, tanpa ada perubahan sedikitpun dalam naskah. Sasaran kali ini adalah jurnal Materials Science and Engineering A (MSEA). Namun, siapa sangka, saya justru mendapatkan respon tidak melegakan dari editor jurnal ini dalam kurun waktu lebih cepat dari jurnal sebelumnya. Hanya terpaut beberapa hari saja, berita penolakan itu dikirimkan melalui e-mail. Alasan penolakan berkaitan dengan konten naskah yang tidak sesuai dengan bidang jurnal ini.

E-mail 'rejection' dari editor Materials Science and Engineering A

Berangkat dari dua penolakan di atas, saya berpikir kembali untuk memperbaiki tulisan saya. Saya kumpulkan beberapa paper yang mendukung temuan saya dalam tulisan tersebut. Setelah semua terangkum kembali dengan bahasa yang rapi –setidaknya menurut saya, hehehe.., saya kirimkan kembali naskah tersebut. Jurnal yang disasar kali ini adalah Materials Chemistry and Physics, yang justru mempunyai impact factor lebih besar dibandingkan kedua jurnal sebelumnya saat itu.  Alasan pemilihannya karena topik tulisan saya juga tampak relevan dengan topik umum jurnal ini. Kali ini, saya harus menunggu kurang lebih tiga bulan sebelum datang respon dari reviewer. Sifat saya yang kurang sabaran membuat saya tak pernah bosan membuka akun saya di jurnal tersebut, sekedar melihat status dari proses review-nya. Akhirnya, kurang lebih dua bulan berselang, sebuah e-mail dari editor menyapa saya dan dengan halus menyuruh saya memperbaiki tulisan saya tersebut, atau major revision. Namun ada rasa lega dalam benak saya. Bagi saya, ini hal yang positif. Instruksi untuk memperbaiki tidak sama dengan penolakan, dengan kata lain masih ada peluang memperbaiki tulisan tersebut sesuai dengan arahan reviewer. Saya hanya diberi waktu tiga bulan untuk memperbaikinya. Lebih dari itu, tulisan saya akan ditolak.

E-mail 'major revision' dari editor Materials Chemistry and Physics

Lebih kurang satu bulan saya habiskan untuk bergulat dengan perbaikan manuskrip. Beberapa hal saya tambahkan dalam naskah tersebut, termasuk ilustrasi untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada temuan saya. Naskah yang sudah direvisi pun dikirim kembali, dengan harapan besar sebuah pernyataan acceptance dari editor. Sebuah kejutan di akhir minggu datang! Akhirnya, setelah harus sabar menunggu selama satu bulan, naskah saya pun diterima untuk dipublikasikan di jurnal tersebut. Usai sudah perjuangan saya untuk sebuah publikasi pertama di jurnal internasional.

E-mail 'acceptance' dari editor Materials Chemistry and Physics

Sudah barang tentu, diterimanya naskah saya untuk publikasi ini membuat hari Minggu saya cerah, diliputi kebahagiaan. Namun, bagi saya, ada yang lebih membahagiakan selain kabar tentang diterimanya tulisan saya ini. Kebahagiaan itu muncul saat mengenang perjuangan yang tak kenal lelah dan menyerah dalam mempersiapkan naskah hingga akhirnya diterima untuk publikasi. Perjuangan ini tidak dimulai saat menulis manuskrip seperti diceritakan di awal. Namun, sudah dimulai sejak satu setengah tahun sebelumnya, dimana saya bersama kawan saya bahu membahu menyusun serangkaian program penelitian yang akhirnya dapat berbuah menjadi karya, baik tulisan maupun prototip produk, serta membangun sebuah kelompok riset yang mandiri. Perjuangan itu dimulai saat dini hari ketika kami menyusun proposal-proposal penelitian untuk mendapatkan dana hibah dijadikan modal untuk meneliti. Perjuangan ini dihiasi dengan aksi ‘blusukan’ di Pasar Beringharjo di Yogyakarta, perusahaan supplier baja di Surabaya hingga instansi semacam balai pelatihan teknik di Tegal, hanya untuk mendapatkan sampel dan data-data yang diperlukan. Perjuangan ini juga diwarnai dengan kecewa karena peralatan yang rusak, mandi keringat saat menjalankan eksperimen di laboratorium yang pengap, hingga lelah setelah seharian penuh bekerja. Namun, semua itu terbayar dengan hadirnya episode-episode yang membahagiakan, termasuk dipublikasikannya temuan kami yang membuktikan penelitian dengan modal teknologi lokal juga layak didiskusikan di kalangan komunitas ilmuwan internasional.