Sabtu, 13 Desember 2025

Mengintip Bus Kota di Singapura

Perjalanan ke tempat baru selalu membawa kesan dan cerita bagi siapa pun yang menjalaninya. Pada akhir tahun 2025 ini, saya berkesempatan mengunjungi dua kampus di Singapura. Momen ini menjadi pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di salah satu negara terdekat dengan Indonesia. Meski jaraknya sangat dekat, jalan hidup saya tidak menjadikan Singapura sebagai negara asing pertama yang saya kunjungi.

Salah satu hal yang selalu menarik perhatian saya ketika berkunjung ke suatu tempat, terutama negara lain, adalah sistem transportasi publiknya. Kereta, Mass Rapid Transit (MRT), maupun bus selalu menjadi hal-hal yang sering saya amati.

Singapura, sebagaimana negara-negara maju lainnya, telah memiliki sistem transportasi publik yang baik. Konektivitas antar titik naik-turun penumpang maupun antar moda terintegrasi dengan baik, sementara ketepatan waktu kedatangan armada dapat dikatakan cukup akurat sesuai jadwal. Selama perjalanan, saya menggunakan dua moda transportasi publik untuk mencapai berbagai tujuan, yaitu bus dan MRT. Menariknya, jadwal serta jalur keduanya kini dapat diakses melalui Google Maps, sehingga sangat memudahkan penumpang.

MRT mungkin sudah dianggap lumrah dengan ketepatan dan kecepatannya yang mumpuni, bahkan pernah menjadi inspirasi bagi sistem transportasi di beberapa kota besar di Indonesia. Namun, yang cukup menarik bagi saya adalah bus kota di Singapura. Secara umum, bus kota di sana mirip dengan yang ada di Eropa. Bahkan, sebagian armadanya identik dengan bus di Belanda. Misalnya, bus satu lantai Mercedes-Benz Citaro memiliki bentuk dan interior yang sama dengan bus kota di Belanda: lantai rendah dan konfigurasi tempat duduk yang serupa. Selain itu, terdapat pula bus tingkat (double-decker) yang memungkinkan penumpang duduk di lantai atas. Namun, sebagaimana bus tingkat pada umumnya, penumpang di lantai atas berisiko mengalami pusing akibat goyangan bus.

Armada bus kota di Singapura di sebuah stasiun perhentian bus

Bagaimana cara menaiki bus kota di Singapura? Penumpang dapat membayar dengan uang tunai maupun kartu khusus. Bus berhenti di halte-halte yang telah disediakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Hal menarik lainnya, meski bus berukuran besar, awak bus hanya terdiri dari satu orang, yaitu pengemudi. Belakangan saya menonton liputan di kanal televisi CNA yang menyebutkan bahwa pengemudi bus di Singapura juga berperan sebagai captain, yakni memberikan pelayanan tambahan kepada penumpang bila diperlukan.

Halte perhentian bus di Singapura

Saya sendiri menyaksikan langsung di sebuah halte, ketika seorang penumpang pengguna kursi roda hendak naik bus. Sang captain segera turun dari ruang kemudi, membuka dek penyambung agar kursi roda dapat masuk, lalu memastikan posisi penumpang aman di dalam bus sebelum kembali ke kokpit.

Suasana di dek atas bus double decker di Singapura

Apakah bus menjangkau seluruh wilayah Singapura? Berdasarkan pengalaman saya yang masih terbatas di pusat kota dan beberapa universitas, bus memang menjangkau berbagai titik, dari Orchard Road yang tersohor itu hingga ke Changi Airport. Armada bus tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga memudahkan mobilitas sehari-hari.

Bus kota di Orchard Road

Apakah bus juga sering menemui kemacetan? Tentu saja, namun dari pengamatan saya, kemacetan di Singapura tidak separah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Lalu lintas tetap relatif lancar, sehingga perjalanan dengan bus terasa lebih nyaman dan terprediksi.

Keberadaan transportasi publik seperti bus yang dapat diandalkan ternyata cukup membantu menghemat anggaran perjalanan. Bayangkan saja, menggunakan taksi daring dari Changi Airport menuju hotel tempat saya menginap menghabiskan biaya sekitar 20 dolar Singapura. Sementara itu, dengan menggunakan bus, saya hanya perlu membayar sekitar 4 dolar Singapura.

Minggu, 25 Mei 2025

Kita Itu Memang Tidak Penting…

Judul yang menampar, ya? Bahkan intimidatif, mengancam kesehatan mental, hehehe…

Tetapi, coba saja kita renungkan.

 

Kita sering kecewa, kecewa karena tidak dihargai, kecewa akibat tidak dihormati, kecewa lantaran tidak disebut-sebut namanya, dielu-elukan, ditampilkan kebesarannya.

Kita sering marah, oleh sebab orang lain, bahkan yang di sekitar kita ternyata mengungguli kita dan ia lebih dibangga-banggakan, disanjung-sanjung.

Kita dongkol, karena merasa tidak diapresiasi, padahal sudah bekerja keras, bahkan siang dan malam. Namun, orang lain yang dengan kerjanya yang di mata kita tampak biasa-biasa saja, tapi melejit melebihi kita. Dan seterusnya…

 

Tetapi pernahkah kita melihat sebentar, dari mana munculnya rasa kecewa itu, rasa dongkol itu, rasa marah, rasa tersaingi, atau rasa-rasa sejenis lainnya?

 

Barangkali, awal mulanya ya ada pada diri kita sendiri, dari dalam hati kita sendiri.

 

Ada perasaan selalu menjadi orang penting, menjadi orang yang seharusnya mendapatkan tempat atau merasa menjadi orang yang perlu diperhatikan, pantas digelari dengan predikat yang ter- atau si paling bla bla bla, selalu dianggap yang paling hebat, paling keren, paling pintar, paling berprestasi, berhak dihormati, berhak dihargai, atau berhak diapresiasi. Tetapi, ternyata tidak! Kecewa pastinya ya.

 

Mungkin ada kalanya perlu mencoba dan berpikir hingga akhirnya memutuskan, untuk berkata pada diri ini, bahwa kita itu sebenarnya tidak penting. Bukan men-demotivasi, tetapi lebih pada upaya ‘menyelamatkan diri’ dari diri kita sendiri. Tidak penting, dari sudut pandang atau kacamata kita sendiri. Sekali lagi, dari perspektif kita, bukan sudut pandang orang lain.

Mungkin, sejatinya yang membuat kita kecewa, adalah sudut pandang kita sendiri yang teramat sangat menganggap diri kita ini penting, penting bagi orang lain. Padahal, bisa jadi, orang lain menganggap kita biasa-biasa saja, atau bahkan memang tidak penting.

 

Kita over ekspektasi, overestimate, ge-er, atau bahasa Jawanya kegeden rumongso. Merasa penting, atau tepatnya terlalu merasa penting bagi orang lain. Padahal nyatanya tidak. Harusnya, anggapan penting itu dari orang lain. Biarlah orang lain yang menganggap kita penting, tetapi itu bukan urusan kita. Biarlah kita seperti ini saja, apa adanya, bekerja, belajar, berkarya dan seterusnya, tapi tetap merasa biasa saja. Bahkan dalam senyap. Tak apa. Dan seharusnya juga memang tidak apa-apa.

Jumat, 17 Januari 2025

High Temperature Hydrogen Attack

High temperature hydrogen attack, disingkat HTHA, adalah salah satu bentuk kegagalan atau kerusakan pada material baja atau logam berbasis besi (ferrous material) akibat interaksi dengan gas hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi. HTHA sering ditemui pada perpipaan atau tube alat penukar panas (heat exchanger) di industri.


Proses pembentukan celah dan retak akibat HTHA
(Sumber gambar: www.inspectioneering.com) 


Secara singkat, kerusakan ini dipicu oleh disosiasi atom hidrogen yang kemudian bereaksi dengan karbon yang sebelumnya membentuk karbida pada baja. Reaksi tersebut membentuk gas metana atau CH4. Dengan kata lain, reaksi antara atom hidrogen dengan karbon ini menyebabkan terjadinya dekarburisasi (decarburization) pada baja. Kebalikan dengan karburisasi, dekarburisasi menyebabkan permukaan baja menjadi lebih lunak. Dekarburisasi ini dapat mengurangi kekuatan mekanis, terutama pada permukaan baja. Adanya dekarburisasi ini memungkinkan terjadinya peningkatan potensi erosi akibat geseran (shear) antara dinding dalam pipa dengan aliran fluida di dalamnya. 

Di sisi lain, gas CH4 yang terbentuk akibat proses HTHA ini tidak bisa terdifusi pada dinding pipa, sehingga tekanan tersebut di dalam pipa meningkat, dengan fase awal berupa terbentuknya gelembung-gelembung, yang dapat menyebabkan terbentuknya celah-celah kecil berukuran mikro (microfissures) pada material baja. Celah-celah tersebut saling berkombinasi dan akhirnya membentuk retak (cracks) pada dinding internal pipa.

Kegagalan pipa atau material akibat HTHA ini terjadi ketika retak-retak yang terbentuk menyebabkan pengurangan kemampuan konstruksi dalam menahan beban (load-carrying capacity). Selain itu, blistering juga dapat terjadi akibat molekul hidrogen yang berkombinasi kembali atau akumulasi CH4 yang membentuk lapisan pada permukaan baja. 

Pencegahan terjadinya HTHA dapat dilakukan dengan cara mencegah pembentukan gas metana CH4 yang berinteraksi dengan material baja. Cara ini dapat dilakukan dengan pendekatan metalurgis, yakni dengan mengganti karbida besi (iron carbide) pada komposisi baja dengan karbida yang lebih stabil terhadap hidrogen, misalnya karbida kromium, karbida molybdenum, karbida titanium, karbida vanadium atau karbida niobium. Ketahanan baja terhadap HTHA meningkat apabila kandungan Cr dan Mo-nya meningkat. Pada beberapa material yang spesifik, HTHA tergantung pada temperatur, tekanan parsial hidrogen, durasi ekspos dan level tegangan.