Di awal Mei tahun 2017 ini, saya
berkesempatan berbagi kisah dengan para mahasiswa pasca-sarjana Program Studi
Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada (UGM). Awalnya, saya sempat ragu menerima
undangan yang disampaikan oleh seorang kawan dosen di kampus ini, karena waktu acaranya
yang sangat mendadak bagi saya. Singkatnya, siang itu saya ditawari kesempatan berbagi
cerita untuk pagi keesokan harinya. Namun, tak berselang lama, cukup beberapa
menit saja, saya mengiyakan tawaran tersebut. Yang terbesit dalam pikiran saya,
kalau hanya bercerita tentang bagaimana menjadi penulis pemula sebuah artikel
di jurnal internasional, saya bisa me-review
kisah-kisah yang pernah saya tulis dalam blog
ini, lalu saya angkat kembali menjadi sebuah dongeng dalam kemasan yang sedikit
berbeda.
Kisah yang saya angkat sesuai
dengan permintaan penyelenggara acara -pengurus himpunan mahasiswa
pasca-sarjana teknik mesin UGM-, yakni tentang kiat bagaimana menjadi penulis pemula untuk
sebuah artikel di jurnal internasional. Serta, bagaimana kiat agar manuskrip
yang dibuat bisa tembus di jurnal internasional. Jujur saja, saya sebenarnya
tidak punya resep khusus yang bisa saya bagikan dalam dongeng saya nantinya.
Pun, saat itu, saya tidak punya waktu panjang untuk mensarikan berbagai tips
dan trik yang ada dalam literatur maupun cerita-cerita dari para peneliti dan
penulis artikel yang sudah malang melintang di dunia riset dan publikasi ilmiah
internasional.
Kesempatan langka, bahkan ini yang pertama kali dalam hidup saya, mendongeng tentang kisah masa lampau yang begitu berkesan dan sulit untuk dilupakan. (Foto oleh: Dr. Muslim Mahardika) |
Jadilah, pagi hari sebelum adzan Subuh
berkumandang di hari-H saya berkisah, enam lembar slide
presentasi berhasil saya tuntaskan, dengan merangkum segala apa yang berkecamuk
dalam pikiran saya tentang kisah menjadi penulis pemula. Sebelumnya, cerita
tentang menjadi penulis pemula pernah saya singgung di artikel ini. Dalam
dongeng saya pagi itu, ada sembilan poin yang saya bisa ceritakan, terkait
usaha dan upaya seseorang menjadi penulis artikel untuk jurnal internasional.
Pertama, cerdas bercerita. Menurut
saya, teknik menulis artikel di jurnal internasional itu tidak jauh berbeda
menulis tulisan ilmiah popular dalam surat kabar, majalah maupun blog. Alur cerita yang ada dalam tulisan
harus disusun secara runtut dan menarik, agar disukai pembaca. Dan, siapakah
pembaca pertama tulisan kita untuk sebuah jurnal internasional? Adalah editor dan reviewer! Merekalah yang pertama kali menilai apakah manuskrip kita
layak untuk diterbitkan dalam jurnal mereka. Oleh karenanya, cerdas bercerita
dalam menulis artikel untuk jurnal internasional itu perlu. Alur cerita dalam
suatu artikel ilmiah tidak boleh bertele-tele (atau mbulet, dalam bahasa Jawanya), tetapi harus ringkas dan jelas, serta
mengasyikan saat dibaca.
Kedua, memperhatikan struktur
bahasa. Hendaknya para penulis pemula benar-benar memperhatikan kaidah penulisan
yang baku, terutama tentang susunan subjek (S)-predikat (P)-objek (O)-keterangan
(K). Meski artikel dalam jurnal internasional itu ditulis dalam bahasa Inggris,
aturan S-P-O-K tetap harus digunakan. Hindari penggunaan bahasa informal
seperti halnya dalam pesan singkat SMS,
Whatsapp maupun percakapan
sehari-hari.
Ketiga, bahasa Inggris harus
baik. Kemampuan yang baik untuk meramu tulisan dalam bahasa Inggris dalam
adalah salah satu syarat mutlak agar manuskrip kita diterima sebagai artikel di
suatu jurnal internasional. Dan, bertutur dalam bahasa tulisan selalu lebih
sulit daripada dalam bahasa lisan. Lalu, bagaimana bila kemampuan menulis dalam
bahasa Inggris kita belum baik? Ya, belajar. Ikuti kursus-kursus yang ada,
rajin menulis dan berkonsultasi dengan kawan, mentor maupun pembimbing yang memang
sudah berpengalaman menulis artikel ilmiah di jurnal internasional.
Keempat, tekun membaca artikel di
jurnal internasional. Kata pepatah, otak kita ini ibarat teko air. Apa yang
kita tulis itu sejatinya adalah muntahan dari apa yang kita baca selama ini.
Jadi, kalau ternyata tulisan kita itu terasa hampa, bertele-tele dan tidak mendalam
analisisnya, bisa berarti kita memang kurang banyak membaca hal-hal yang relevan
dengan tulisan kita tadi. Dengan tekun membaca artikel yang relevan dengan apa
yang kita tulis, maka tidak hanya materi-materi penting pendukung tulisan kita
saja yang bisa kita serap, tetapi juga bagaimana cara mengungkapkan dan memaparkan
hasil-hasil penelitian kita ke dalam bahasa tulis yang baik dan tepat.
Kelima, perlu mentor atau
pembimbing. Menjadi penulis pemula itu juga bisa diartikan sebagai orang yang belum
tahu apa-apa. Makanya janganlah sok tahu, hehehe…
Bertanyalah dan bergurulah kepada orang-orang yang kita rasa patut untuk kita
timba ilmunya. Mereka adalah para dosen, pembimbing, bahkan rekan sejawat yang
sudah berpengalaman menulis jurnal internasional. Mereka yang berpengalaman itu
pastilah mempunyai segudang cerita menarik, yang tidak hanya tentang teknis
penulisan tetapi juga motivasi yang membuat kita bersemangat dalam menulis.
Bahkan, di antara merekapun ada yang tidak segan untuk duduk bersama kita,
membicarakan tentang ilmu, penelitian dan tentunya tulisan yang akan dirumuskan
untuk menjadi sebuah draft artikel
untuk jurnal internasional.
Keenam, perlu kawan yang selalu
mendukung dan memotivasi. Lingkungan yang suportif selalu menjadi tempat terbaik
untuk belajar, termasuk belajar menulis artikel untuk jurnal internasional.
Mengapa harus suportif? Karena di negeri ini, tidak semua lingkungan mau
mengakomodir mimpi-mimpi kita menjadi penulis artikel jurnal internasional. Malah
sebaliknya, cibiran dan kata-kata nyinyir
seringkali muncul dari lingkungan di sekitar kita. Orang yang antusias menulis
dan mempromosikan menulis di jurnal internasional tidak jarang malah dicap
orang aneh. Jadi, lingkungan yang suportif itu sangat penting. Grup riset yang
terdiri dari orang-orang yang sevisi tentang publikasi internasional tentu
menjadi ladang yang penuh nutrisi. Juga, jangan lupa menghadirkan pemahaman tentang
pentingnya publikasi internasional kepada keluarga terdekat, terutama istri
atau suami, agar merekapun mengerti dan tidak segan-segan memberikan energi
positifnya kepada kita yang tengah berjuang menjadi penulis artikel yang baik.
Ketujuh, belajarlah dari
kesalahan. Rejection atau penolakan
atas manuskrip yang kita kirim pada sebuah jurnal internasional adalah hal yang
biasa terjadi dan hampir selalu dialami oleh para penulis pemula. Begitu juga,
coretan-coretan dari dosen pembimbing pada manuskrip kita adalah hal yang
biasa. Sakit hati boleh, tapi jangan lama-lama, hehehe.... Komentar, masukan serta kritik dari reviewer, editor maupun pembimbing pada hakikatnya adalah petunjuk
kita untuk belajar, belajar untuk menjadi lebih baik. Kalaupun kita merasa
pendapat kita masih lebih baik daripada mereka, maka setidaknya kita belajar
untuk bersabar atau belajar untuk menyampaikan pendapat yang berbeda dengan
cara yang baik. Beberapa tulisan saya tentang komentar dan kritik dari reviewer maupun pembimbing pernah saya
unggah dalam blog ini (lihat posting tentang Cermin dan Coretan-coretan sarat makna).
Kedelapan, memahami dan mengikuti
tatacara penulisan. Salah satu kunci diterimanya manuskrip kita pada jurnal
internasional adalah ketaatan kita mengikuti aturan menulis (author guidelines) yang diberikan oleh
masing-masing jurnal. Oleh karenanya, sebelum kita akan mengirimkan sebuah
manuskrip, pastikan terlebih dahulu kesesuaian tulisan kita dengan tatacara
menulis yang telah ditetapkan oleh jurnal yang bersangkutan. Tatacara penulisan
ini sangat gampang diakses dan biasanya selalu disediakan dalam bentuk pdf pada
website jurnal.
Kesembilan, segera mulai! Kesalahan
kita saat akan melakukan sesuatu yang baru umumnya adalah ‘menunda’ untuk
memulainya. Demikian juga dalam menulis artikel untuk jurnal internasional. Sebenarnya
bukan karena kita kekurangan waktu untuk mengikuti kursus singkat atau
pelatihan tentang menulis artikel yang membuat kita tidak berhasil untuk
publikasi di jurnal internasional. Namun, kebiasaan kita sendiri untuk menunda yang
menjadi penyakit saat mulai menulis. Kita khawatir akan kualitas tulisan kita,
padahal menulis saja belum. Kita khawatir tentang grammar bahasa Inggris kita, padahal mencoba menulis satu kalimat
saja belum. Oleh karenanya, tidak ada kata lain, selain mulai sekarang juga!
Sembilan poin di atas saya susun berdasarkan
pengalaman pribadi saya. Tentu, pembaca boleh setuju atau tidak. Selamat
berjuang!
Maturnuwun mas Budi atas pencerahannya.Benar yang mas ceritakan,penyakitnya sama cara menanganinya sudah ada sisa kembali ke pribadi masing.Gelem opo Nggak.hehhe.salam Midarto Dwi W
BalasHapusMatur nuwun atas kunjungannya, Mas Midarto. Betul mas, tinggal kita mau apa tidak. Hehehe...
HapusSalam,
Budi