Sabtu, 13 Desember 2025

Mengintip Bus Kota di Singapura

Perjalanan ke tempat baru selalu membawa kesan dan cerita bagi siapa pun yang menjalaninya. Pada akhir tahun 2025 ini, saya berkesempatan mengunjungi dua kampus di Singapura. Momen ini menjadi pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di salah satu negara terdekat dengan Indonesia. Meski jaraknya sangat dekat, jalan hidup saya tidak menjadikan Singapura sebagai negara asing pertama yang saya kunjungi.

Salah satu hal yang selalu menarik perhatian saya ketika berkunjung ke suatu tempat, terutama negara lain, adalah sistem transportasi publiknya. Kereta, Mass Rapid Transit (MRT), maupun bus selalu menjadi hal-hal yang sering saya amati.

Singapura, sebagaimana negara-negara maju lainnya, telah memiliki sistem transportasi publik yang baik. Konektivitas antar titik naik-turun penumpang maupun antar moda terintegrasi dengan baik, sementara ketepatan waktu kedatangan armada dapat dikatakan cukup akurat sesuai jadwal. Selama perjalanan, saya menggunakan dua moda transportasi publik untuk mencapai berbagai tujuan, yaitu bus dan MRT. Menariknya, jadwal serta jalur keduanya kini dapat diakses melalui Google Maps, sehingga sangat memudahkan penumpang.

MRT mungkin sudah dianggap lumrah dengan ketepatan dan kecepatannya yang mumpuni, bahkan pernah menjadi inspirasi bagi sistem transportasi di beberapa kota besar di Indonesia. Namun, yang cukup menarik bagi saya adalah bus kota di Singapura. Secara umum, bus kota di sana mirip dengan yang ada di Eropa. Bahkan, sebagian armadanya identik dengan bus di Belanda. Misalnya, bus satu lantai Mercedes-Benz Citaro memiliki bentuk dan interior yang sama dengan bus kota di Belanda: lantai rendah dan konfigurasi tempat duduk yang serupa. Selain itu, terdapat pula bus tingkat (double-decker) yang memungkinkan penumpang duduk di lantai atas. Namun, sebagaimana bus tingkat pada umumnya, penumpang di lantai atas berisiko mengalami pusing akibat goyangan bus.

Armada bus kota di Singapura di sebuah stasiun perhentian bus

Bagaimana cara menaiki bus kota di Singapura? Penumpang dapat membayar dengan uang tunai maupun kartu khusus. Bus berhenti di halte-halte yang telah disediakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Hal menarik lainnya, meski bus berukuran besar, awak bus hanya terdiri dari satu orang, yaitu pengemudi. Belakangan saya menonton liputan di kanal televisi CNA yang menyebutkan bahwa pengemudi bus di Singapura juga berperan sebagai captain, yakni memberikan pelayanan tambahan kepada penumpang bila diperlukan.

Halte perhentian bus di Singapura

Saya sendiri menyaksikan langsung di sebuah halte, ketika seorang penumpang pengguna kursi roda hendak naik bus. Sang captain segera turun dari ruang kemudi, membuka dek penyambung agar kursi roda dapat masuk, lalu memastikan posisi penumpang aman di dalam bus sebelum kembali ke kokpit.

Suasana di dek atas bus double decker di Singapura

Apakah bus menjangkau seluruh wilayah Singapura? Berdasarkan pengalaman saya yang masih terbatas di pusat kota dan beberapa universitas, bus memang menjangkau berbagai titik, dari Orchard Road yang tersohor itu hingga ke Changi Airport. Armada bus tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga memudahkan mobilitas sehari-hari.

Bus kota di Orchard Road

Apakah bus juga sering menemui kemacetan? Tentu saja, namun dari pengamatan saya, kemacetan di Singapura tidak separah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Lalu lintas tetap relatif lancar, sehingga perjalanan dengan bus terasa lebih nyaman dan terprediksi.

Keberadaan transportasi publik seperti bus yang dapat diandalkan ternyata cukup membantu menghemat anggaran perjalanan. Bayangkan saja, menggunakan taksi daring dari Changi Airport menuju hotel tempat saya menginap menghabiskan biaya sekitar 20 dolar Singapura. Sementara itu, dengan menggunakan bus, saya hanya perlu membayar sekitar 4 dolar Singapura.

Minggu, 25 Mei 2025

Kita Itu Memang Tidak Penting…

Judul yang menampar, ya? Bahkan intimidatif, mengancam kesehatan mental, hehehe…

Tetapi, coba saja kita renungkan.

 

Kita sering kecewa, kecewa karena tidak dihargai, kecewa akibat tidak dihormati, kecewa lantaran tidak disebut-sebut namanya, dielu-elukan, ditampilkan kebesarannya.

Kita sering marah, oleh sebab orang lain, bahkan yang di sekitar kita ternyata mengungguli kita dan ia lebih dibangga-banggakan, disanjung-sanjung.

Kita dongkol, karena merasa tidak diapresiasi, padahal sudah bekerja keras, bahkan siang dan malam. Namun, orang lain yang dengan kerjanya yang di mata kita tampak biasa-biasa saja, tapi melejit melebihi kita. Dan seterusnya…

 

Tetapi pernahkah kita melihat sebentar, dari mana munculnya rasa kecewa itu, rasa dongkol itu, rasa marah, rasa tersaingi, atau rasa-rasa sejenis lainnya?

 

Barangkali, awal mulanya ya ada pada diri kita sendiri, dari dalam hati kita sendiri.

 

Ada perasaan selalu menjadi orang penting, menjadi orang yang seharusnya mendapatkan tempat atau merasa menjadi orang yang perlu diperhatikan, pantas digelari dengan predikat yang ter- atau si paling bla bla bla, selalu dianggap yang paling hebat, paling keren, paling pintar, paling berprestasi, berhak dihormati, berhak dihargai, atau berhak diapresiasi. Tetapi, ternyata tidak! Kecewa pastinya ya.

 

Mungkin ada kalanya perlu mencoba dan berpikir hingga akhirnya memutuskan, untuk berkata pada diri ini, bahwa kita itu sebenarnya tidak penting. Bukan men-demotivasi, tetapi lebih pada upaya ‘menyelamatkan diri’ dari diri kita sendiri. Tidak penting, dari sudut pandang atau kacamata kita sendiri. Sekali lagi, dari perspektif kita, bukan sudut pandang orang lain.

Mungkin, sejatinya yang membuat kita kecewa, adalah sudut pandang kita sendiri yang teramat sangat menganggap diri kita ini penting, penting bagi orang lain. Padahal, bisa jadi, orang lain menganggap kita biasa-biasa saja, atau bahkan memang tidak penting.

 

Kita over ekspektasi, overestimate, ge-er, atau bahasa Jawanya kegeden rumongso. Merasa penting, atau tepatnya terlalu merasa penting bagi orang lain. Padahal nyatanya tidak. Harusnya, anggapan penting itu dari orang lain. Biarlah orang lain yang menganggap kita penting, tetapi itu bukan urusan kita. Biarlah kita seperti ini saja, apa adanya, bekerja, belajar, berkarya dan seterusnya, tapi tetap merasa biasa saja. Bahkan dalam senyap. Tak apa. Dan seharusnya juga memang tidak apa-apa.

Jumat, 17 Januari 2025

High Temperature Hydrogen Attack

High temperature hydrogen attack, disingkat HTHA, adalah salah satu bentuk kegagalan atau kerusakan pada material baja atau logam berbasis besi (ferrous material) akibat interaksi dengan gas hidrogen pada temperatur dan tekanan tinggi. HTHA sering ditemui pada perpipaan atau tube alat penukar panas (heat exchanger) di industri.


Proses pembentukan celah dan retak akibat HTHA
(Sumber gambar: www.inspectioneering.com) 


Secara singkat, kerusakan ini dipicu oleh disosiasi atom hidrogen yang kemudian bereaksi dengan karbon yang sebelumnya membentuk karbida pada baja. Reaksi tersebut membentuk gas metana atau CH4. Dengan kata lain, reaksi antara atom hidrogen dengan karbon ini menyebabkan terjadinya dekarburisasi (decarburization) pada baja. Kebalikan dengan karburisasi, dekarburisasi menyebabkan permukaan baja menjadi lebih lunak. Dekarburisasi ini dapat mengurangi kekuatan mekanis, terutama pada permukaan baja. Adanya dekarburisasi ini memungkinkan terjadinya peningkatan potensi erosi akibat geseran (shear) antara dinding dalam pipa dengan aliran fluida di dalamnya. 

Di sisi lain, gas CH4 yang terbentuk akibat proses HTHA ini tidak bisa terdifusi pada dinding pipa, sehingga tekanan tersebut di dalam pipa meningkat, dengan fase awal berupa terbentuknya gelembung-gelembung, yang dapat menyebabkan terbentuknya celah-celah kecil berukuran mikro (microfissures) pada material baja. Celah-celah tersebut saling berkombinasi dan akhirnya membentuk retak (cracks) pada dinding internal pipa.

Kegagalan pipa atau material akibat HTHA ini terjadi ketika retak-retak yang terbentuk menyebabkan pengurangan kemampuan konstruksi dalam menahan beban (load-carrying capacity). Selain itu, blistering juga dapat terjadi akibat molekul hidrogen yang berkombinasi kembali atau akumulasi CH4 yang membentuk lapisan pada permukaan baja. 

Pencegahan terjadinya HTHA dapat dilakukan dengan cara mencegah pembentukan gas metana CH4 yang berinteraksi dengan material baja. Cara ini dapat dilakukan dengan pendekatan metalurgis, yakni dengan mengganti karbida besi (iron carbide) pada komposisi baja dengan karbida yang lebih stabil terhadap hidrogen, misalnya karbida kromium, karbida molybdenum, karbida titanium, karbida vanadium atau karbida niobium. Ketahanan baja terhadap HTHA meningkat apabila kandungan Cr dan Mo-nya meningkat. Pada beberapa material yang spesifik, HTHA tergantung pada temperatur, tekanan parsial hidrogen, durasi ekspos dan level tegangan.


Sabtu, 07 September 2024

Soekarno, Buku dan The World of The Mind

Sekira tahun 1965, Presiden Soekarno pernah diwawancarai oleh orang Jerman yang sedang berada di Istana Merdeka, Jakarta. Salah satu hal yang menarik adalah pada saat pewawancara itu bertanya kepada Soekarno tentang buku apa yang memiliki pengaruh besar pada pemikiran politik Sang Presiden? Ternyata Soekarno tidak langsung menjawabnya dengan menyebut bukunya satu per satu. Ia memulai jawabannya dengan mengungkapkan bahwa pemikiran politiknya adalah campuran dari sekian banyak gagasan-gagasan yang ia baca dari buku-buku yang ditulis oleh para pemikir-pemikir besar di masanya. Mulai dari Dante Alighieri hingga Hitler, yang ia ‘temui’ pada saat membaca buku-bukunya.

Penuturan Presiden Soekarno tentang buku dan insipirasi pemikirannya pada 1965 di Istana Negara, Jakarta
(Foto diambil dari potongan video dalam channel Youtube Bimo K.A.)

Satu hal yang menarik sebenarnya adalah ketika Soekarno mengungkapkan tentang mengapa ia gemar membaca buku. Soekarno mengawali dengan kehidupannya di masa mudanya dalam kemiskinan dan serba kekurangan materi. Ia kehilangan kesenangannya dalam kehidupan dengan materi; ia tinggal di rumah yang kecil, tidur di atas ranjang bambu dan tidak punya lampu listrik di rumahnya. Namun menariknya, ia tidak melanjutkan dengan bercerita untuk menggali simpati oleh karena kemiskinannya. Soekarno justru berujar bahwa saat itu ia memilih untuk ‘meninggalkan kekurangan materinya’ itu dengan membaca buku. Dengan buku, ia menemukan yang ia sebut sebagai the world of the mind, dunia (alam) pikiran, sebuah dunia yang di dalamnya ia bertemu dengan banyak orang hebat. Dari situlah Soekarno mendapatkan ide-ide atau insipirasi yang lantas ia racik dan olah sendiri hingga menjadi gagasan otentiknya sendiri, termasuk gagasannya tentang Pancasila. Menarik ya, kita pernah punya orang hebat, bukan hanya ditunjukkan oleh sekadar kharisma, gestur tubuh dan cara berbicaranya yang memukau. Tetapi, ia merupakan seseorang yang mempunyai pengalaman berpetualang dalam alam pikiran, dengan cara meresapi pemikiran-pemikiran orang besar di eranya, lalu melakukan sintesis ide-ide hingga lahir gagasan-gagasan besar yang tidak hanya sebatas teori tetapi praktik. Juga sebaliknya, bukan hanya tentang gagasan yang sekadar diterapkan atau dipraktikkan, tetapi juga telah digodog, diolah atau disintesis dengan baik, sehingga tidak mudah lekang oleh zaman. Pancasila adalah salah satu buktinya.

Dari sini kita belajar, bahwa membaca adalah kebiasaan luar biasa yang sanggup mengasah kemampuan berpikir seseorang. Apalagi membaca dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang besar dalam pemikirannya. Memang benar, para pemimpin kita di masa berdirinya republik ini memang orang-orang besar yang lahir dan hidup dengan pengalaman membaca yang luar biasa. Selain Soekarno, tentu saja Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Sutan Syahrir dan berderet tokoh lainnya adalah orang-orang yang matang secara pemikiran, salah satunya karena pengalamannya hidup dalam the world of mind dengan membaca dan menulis.


Minggu, 21 Januari 2024

Serba-serbi Cuci Mobil

Bagi banyak orang mungkin cuci mobil adalah aktivitas yang membosankan, bahkan diabaikan, walaupun mereka tahu pentingnya melakukan hal ini. Cuci mobil biasanya cukup diserahkan saja ke tempat pencucian. Paling tidak, hanya dengan kisaran lima puluh ribu rupiah mobil sudah bersih kembali. Tetapi, uang sebesar lima puluh ribu rupiah ini sayang juga bila harus dikeluarkan terlalu sering hanya untuk cuci mobil. Lumayanlah, dengan nominal ini, makan di warung bisa sampai dua kali, atau dengan menu secukupnya bisa tiga kali atau makan sehari. Di sisi lain, mobil yang kotor, atau sangat amat kumal, berdebu dan sarat dengan lumpur, memang tidak nyaman dilihat. Di musim hujan, bodi mobil selalu terlumuri air hujan, yang konon pada saat ini tingkat keasamannya sudah lebih tinggi dibandingkan tempo dulu. Bahkan, efek jangka panjangnya bisa jadi perusak beberapa komponen mobil, terutama sasis atau bodi berkarat akibat terekspos air kotor dalam durasi yang lama. Karenanya, cuci mobil sendiri mungkin bisa menjadi salah satu alternatif merawat mobil kita secara hemat.

Nikmatnya ngopi sambil menunggu cuci mobil


Tentunya, mencuci mobil ada tekniknya. Tidak bisa asal semprot atau guyur mobil kita dengan air lalu dikeringkan. Beberapa tips dari saya untuk mencuci mobil sendiri:


  1. Jika mobil dalam keadaan kering namun sarat dengan debu, sisa-sisa lumpur, tanah atau kotoran-kotoran padat lainnya, maka ia jangan langsung digosok dengan kain lap dan air sabun. Bila hal ini dilakukan, maka kotoran-kotoran yang menempel tidak bisa jadi justru akan menjadi semacam kerikil-kerikil tajam yang akan menggores bodi mobil. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah bilas seluruh bodi terlebih dahulu dengan air bersih hingga kotoran-kotoran tadi lepas dari bodi mobil. Kita bisa menggunakan usapan telapak tangan, baik dengan atau tanpa sarung tangan, untuk membantu melepaskan kotoran-kotoran tadi. Lakukan usapan dengan lembut dan guyur dengan tambahan air bersih pada area dimana kotoran masih sulit dilepaskan. Bila bagian kolong roda dirasa sangat kotor penuh dengan sisa-sisa lumpur, maka bersihkan daerah ini terlebih dahulu.

  2. Bila seluruh bodi mobil sudah bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, kita dapat melanjutkan dengan mencuci bodi mobil dengan air sabun. Perlu diingat, kita perlu aware dengan sabun yang dipakai. Tidak bisa asal sabun yang dipakai. Cara paling aman adalah dengan memilih merek sabun yang memang sudah dikenal baik di dunia otomotif, tidak sekadar murah. Pemilihan sabun yang salah bisa berimbas fatal, misal justru akan membuat bodi mobil kusam atau bahkan bila zat-zat dalam sabun terlalu kuat akan merusak lapisan cat mobil. Ketika kita menyabun mobil, lakukan dari atas ke bawah, dari bagian atap, kap lalu menuju ke bagian bawah. Hal ini dilakukan agar kotoran di bawah mobil tidak terbawa ke atas bila diambil arah sebaliknya. Kita dapat menggunakan spons atau kain fiber halus yang menyerap air untuk membantu mengusap air sabun. Bahan berpori seperti ini baik, agar kotoran-kotoran yang masih ada di bodi mobil tertangkap, tidak tergencet hingga dapat menggores bodi mobil. Selanjutnya, guyur kembali seluruh bodi mobil secara merata dengan air bersih, juga dengan arah guyuran dari bagian atas menuju bawah mobil. Dengan cara demikian, kita bisa lebih hemat dalam menggunakan air bersih, karena guyuran air dari atas akan turut membilas bagian bodi yang lebih bawah posisinya.

  3. Setelah mobil bersih dari air sabun, lakukan pengeringan dengan lap halus, misalnya lap berbahan microfiber, untuk mengambil sisa-sisa air yang berada di permukaan bodi mobil. Pada tahap ini, kita bisa juga menggunakan lap kanebo, yang mempunyai kemampuan menyerap air dengan baik. Meski demikian, penggunaan kain kanebo perlu hati-hati, karena bahan ini tidak berpori, sehingga dikhawatirkan kotoran kecil yang masih ada di bodi akan tergencet dan menggores saat diusapkan. Juga perlu diingat, bahwa upayakan pengeringan ini benar-benar tuntas di sekujur bodi mobil. Tidak hanya pada permukaan bodi yang tampak saja, tetapi juga di sela-sela lekukan bodi, ujung dan pinggiran pintu-pintu, karet-karet sil pintu, gagang pintu bahkan hingga di bagian-bagian di bawah kap dimana air terperangkap di sana. Korosi pada mobil biasanya muncul justru di daerah-daerah lekuk dan tersembunyi seperti ini, salah satunya karena sisa-sisa air yang terperangkap dan bertahan lama di area tersebut.

  4. Jangan lupa untuk membersihkan bagian interior mobil. Tentunya, alat paling efektif untuk membantu pembersihan interior ini adalah vacuum cleaner. Ya, alat ini tak ubahnya senjata utama untuk menyedot semua kotoran, terutama remah-remah sisa makanan atau kotoran yang lain. Lakukan pembersihan secara merata, baik di bagian jok maupun lantai mobil, termasuk karpet dasar yang umumnya tersembunyi di balik karpet penutupnya. Bagian panel dashboard dan panel pintu dalam mobil juga perlu dibersihkan dengan cairan pembersih yang aman, karena agar mengkilap kembali dan bebas dari sisa-sisa minyak yang seringkali menempel karena jari tangan kita sehabis makan atau memegang benda berminyak lainnya. Bila karpet mobil juga turut dicuci dengan air, perlu dipastikan bahwa karpet-karpet ini kita masukkan kembali ke dalam mobil dalam keadaan kering. Karpet yang masih basah kemungkinan besar akan membasahi bagian lain, yang dikhawatirkan membuat interior lembab dan mendukung tumbuhnya jamur. 

  5. Bersihkan velg dan ban juga, bila kita masih punya waktu. Velg ini mudah membersihkannya, tinggal kita usap dengan air sabun sisa membersihkan bodi mobil dan guyuran air bersih. Kemudian, keringkan velg dengan kain bersih juga. Sementara, ban mobil bisa juga disemir, agar semakin tampak bersih.  

  6. Tahap akhir dari proses cuci mobil ini adalah pengecekan kembali semua bagian mobil hingga tidak ada sisa-sisa air yang ada di bodi mobil. Tahap ini boleh juga kita tunda sampai kira-kira setengah jam, agar sisa-sisa air semua keluar dan tinggal dilap untuk dibersihkan. Bila mobil biasanya diparkir di rumah dalam keadaan ditutup kain atau plastik cover, lebih baik tunda dulu untuk menutupnya. Biarkan ia kering terlebih dahulu, walaupun tanpa menjemurnya di bawah sinar matahari. 


Enam tahapan di atas bisa dicoba dengan peralatan yang relatif sederhana yang bisa dibeli di supermarket. Bahan utamanya antara lain hanya sabun cuci mobil, pembersih panel interior dan air bersih saja. Sementara itu, alat yang digunakan hanya kain lap, walaupun jumlahnya tentu harus lebih dari satu buah, serta vacuum cleaner. Sesekali waktu, boleh juga mobil kita bawa ke tempat pencucian mobil yang mempunyai peralatan lengkap dan prosedur pencucian yang benar. Di sana, peralatan cukup memadai, terutama untuk membersihkan bagian kolong dan spakbor roda, yang biasanya dipenuhi tanah dan lumpur mengering. Sambil menikmati kopi yang biasanya tersedia di kafe tempat pencucian mobil, kita bisa healing memandangi mobil kita yang tengah dicuci. Tentunya, menjadi momen belajar juga dari proses mencuci mobil yang dilakukan di gerai cuci mobil tersebut.


Minggu, 31 Desember 2023

Satu Dekade

Satu dekade sudah blog ini resmi beredar di dunia maya. Sepuluh tahun lalu, tepatnya November 2013, saya mengawali menulis apapun yang saya rasa menarik untuk ditulis di blog ini. Di era itu, bahasa tulis masih menjadi bahasa ekspresi di dunia maya. Beda dengan zaman sekarang, bahasa tulis mungkin sudah kalah populer dengan audio-visual, semacam video panjang maupun pendek yang diunggah di berbagai platform media sosial. 

Seperti yang pernah saya utarakan di beberapa postingan awal blog ini, bahwa ide membuat blog ini hanya murni didasari keinginan saya untuk mendapatkan platform yang memberikan ruang kebebasan yang lebih luas dibandingkan media surat kabar. Beberapa bulan sebelum blog ini rilis, saya sudah menulis beberapa artikel yang saya unggah di Kompasiana, sebuah platform keren yang memfasilitasi para citizen journalist menuliskan ide, gagasan hingga cerita maupun berita. Namun, lambat laun, saya merasa ada hal-hal yang mungkin lebih tepat kiranya disampaikan secara lebih detail di platform yang dikelola sendiri. Jadilah, blog bertitel My Notes ini rilis, di penghujung 2013, ketika cuaca dingin mulai menyelimuti Kota Delft tempat saya memulai semuanya ini. 

Sepuluh tahun berlalu. Blog ini telah melalui empat masa besar dalam hidup saya, yakni masa rantau di benua seberang (2013-2016), masa kembali ke tanah air (2017-2019), masa pandemi Covid-19 (2020-2021) dan masa post-pandemi (2022-sekarang). Blog ini juga melewati masa pasang dan surut semangat saya dalam menulis. Namun, sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Sepuluh tahun adalah sebuah masa dimana konsistensi saya dalam mengisi blog ini diuji. Dan, akhir kata, saya berharap blog ini akan terus dan terus ada. Terus bernafas di antara sela-sela kehidupan yang semakin ramai oleh dunia baru bernama Youtube, Tiktok, Reels Instagram dan sejenisnya.

Sabtu, 31 Desember 2022

Top Gun: Maverick

Kalau ditanya film apa yang terbaik menurut saya di 2022? Jawab saya pasti, Top Gun: Maverick!

Ya, sekuel film Top Gun yang dahulu kala rilis tahun 1986 ini memang saya nantikan sejak rumornya bermunculan sekira 2019an. Karena pandemi Covid-19, sekual film yang identik dengan Tom Cruise dan "Tom-Cat" ini tertunda rilisnya hingga 2022. Medio 2022, Top Gun: Maverick dirilis, dan konon kabarnya menjadi salah satu film laga udara paling laris ditonton di seluruh dunia.

Top Gun, 1986 (kiri) dan Top Gun: Maverick, 2022 (kanan)

Sedikit flashback, film pertama Top Gun di tahun 80an mungkin terasa biasa-biasa saja bagi para penonton awam yang bukan pecinta dunia pesawat tempur. Alur ceritanya tergolong datar-datar saja. Film ini tak ubahnya hanya bercerita tentang persaingan antar pilot-pilot tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dalam memperebutkan tropi sebagai penempur terbaik di sekolah taktik tempur udara elit “Top Gun”. Walau tetap dibumbui drama ala Hollywood, alur cerita Top Gun tahun 1986 tidak terlalu menyuguhkan cerita dengan pesan moral yang banyak. Hanya poin tentang kerjasama dalam satu tim yang saya rasa cukup mengesankan dalam film tersebut. 

Hal yang menurut saya paling istimewa dari film Top Gun tahun 1986 ini adalah aksi-aksi tempur F-14 Tomcat di udara, yang bermanuver hebat melawan A-4 Skyhawk dan pesawat fiktif MiG-28 musuh (yang sebenarnya adalah F-5 Tiger). Menegangkan dan tetap elok dinikmati. F-14 yang berbadan bongsor itu ditampilkan tetap cantik meliuk-liuk bermanuver di udara. O ya, intermezzo saja, kali pertama saya menonton film Top Gun ini sudah termasuk terlambat. Film sejatinya dirilis 1986, namun baru saya tonton dan pahami ceritanya di awal tahun 2000an. Cukup lama ya, tetapi tetap berkesan bagi saya, hehehe… Karena kesan saya terhadap film inilah, maka sekuelnya yang bertitel Top Gun: Maverick memang sudah saya nantikan penayangannya.

Hampir 40 tahun berselang, tentunya banyak hal yang harus berubah dalam sekual film ini. Armada udara yang dipakai dalam film pun berganti; tidak lagi F-14 Tomcat yang menjadi bintang udaranya, melainkan F/A-18 E/F Super Hornet. Di dunia nyata, F-14 sendiri telah dipensiunkan dari US Navy sejak 2006 dan digantikan perannya oleh Super Hornet. Sang tokoh utama, Capt. Mitchell “Maverick”, pun sudah menua, namun masih berpangkat kapten, walaupun sang rekan dan kompetitornya dulu di 1986 diceritakan telah menjadi seorang admiral dan menempati posisi tertinggi di armada laut Pasifik US Navy. 

Ada beberapa hal menarik dari Top Gun: Maverick. Pertama, beberapa adegan film ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di film pertama. Persaingan antar pilot-pilot US Navy dalam memperebutkan sebuah posisi dalam tim tetap mewarnai plot film ini. Bedanya dengan film yang pertama adalah, bahwa di film Top Gun: Maverick ini persaingan para pilot tidak lagi untuk meraih tropi di sekolah Top Gun, namun untuk menentukan pilot yang siap menjalankan sebuah misi penyerangan darat di gudang uranium di wilayah musuh.

Kedua, beberapa scene sengaja dibuat mirip antara film pertama dan sekuelnya. Misalnya, adegan Maverick mengadu kecepatan motor gedenya dengan pesawat tempur yang sedang lepas landas di pangkalan sekolah Top Gun. Opening scene, atau adegan pembuka yang dihiasi aktivitas take-off dan landing pesawat-pesawat tempur US Navy di atas dek kapal induk juga sama antara film yang pertama dan sekuelnya ini. Dan, di bagian penutup, adegan yang sama juga dipertontonkan berupa sambutan meriah para awak kapal induk pada Maverick seusai menang bertempur dan mendarat dengan selamat di landas pacu kapal induk.

Ketiga, sepertinya penulis film ini tidak ingin melupakan para fans fanatik F-14 Tomcat. Alih-alih membuat para fans kecewa karena bintang udara dalam film direbut oleh F/A-18E/F Super Hornet, penulis film tetap menghadirkan F-14 Tomcat dalam salah satu adegan utamanya walaupun hanya sebentar. Tomcat memang legendaris, tidak bisa dilepaskan dengan Top Gun. Adegan Si Tomcat ini sebenarnya agak ‘memaksakan’, lantaran F-14 diposisikan sebagai pesawat musuh yang akhirnya “dicuri” dan diterbangkan oleh Maverick. Di dunia nyata, tidak ada pemilik F-14 di luar Amerika Serikat, kecuali Iran. Namun, di film Top Gun: Maverick ini, Tomcat yang dibalut dengan cat putih tidak menunjukkan identitasnya sebagai pesawat milik Iran. Berbeda dengan di film Top Gun 1986. Pesawat musuh yang disinyalir adalah MiG-28 “diperankan” oleh F-5 Tiger. Namun, pesawat ini tetap diberi marking atau simbol bintang merah besar yang menandakan pesawat kepunyaan Uni Soviet yang menjadi seteru Amerika Serikat dan NATO di kala itu. 

Keempat, penulis film sepertinya juga cukup cerdas menyambungkan alur film Top Gun: Maverick dengan plot film Top Gun sebelumnya. Tak sekedar hanya membuat film bernuansa perang udara saja, tetapi juga menyuguhkan drama yang menurut saya cukup emosional. Singkat cerita di film Top Gun 1986, Maverick kehilangan Lt. Bradley “Goose”, seorang tandemnya sebagai weapon system officer (WSO) yang duduk di kursi belakang pesawat Tomcat yang ia kendarai akibat kecelakaan saat sesi terbang di sekolah Top Gun. Kehilangan Goose membuat Maverick cukup terpukul hingga pada akhirnya ia harus berjuang untuk bisa kembali perform saat bertempur di akhir cerita film Top Gun 1986. Di sekuel film ini, Maverick bertemu dengan Rooster, anak dari Goose. Di awal cerita mereka saling berkonflik karena Maverick dianggap menghalangi langkah Rooster untuk menjadi seorang pilot tempur. Konflik akhirnya dituntaskan di pungkasan film Top Gun: Maverick ini. Rooster akhirnya menerima dan menyadari bahwa apa yang dilakukan Maverick adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya menggantikan peran Goose sebagai ayah dan menjalankan wasiat dari ibu Rooster sendiri. Cukup menarik, karena tidak ada yang tahu bahwa adegan saat Goose bermain piano di sebuah bar di Top Gun 1986 bersama istri dan anaknya yang masih kecil menjadi jembatan cerita yang menghubungkan film ini dengan Top Gun: Maverick di 2022. Cerita ini terasa cukup mengaduk emosi penonton, terutama yang memang paham dengan film Top Gun yang pertama.

Akhir kata, Top Gun: Maverick ini memang mendapat acungan jempol dari saya. Biasanya saya hanya menonton sebuah film di bioskop hanya sekali, itupun jika filmnya dirasa menarik. Tetapi, untuk Top Gun: Maverick ini, saya sudah dua kali menontonnya di bioskop. Belum lagi, menonton di channel TV kabel di rumah beberapa kali. Dan, Top Gun: Maverick ini telah berhasil membuat saya untuk enggan menonton film di bioskop lagi. Kenapa? Karena saya masih belum menemukan film yang lebih layak ditonton dari Top Gun: Maverick! Hehehee…

Sabtu, 20 November 2021

Honest Thief

Liam Neeson mungkin adalah salah satu aktor yang saya suka terutama ketika ia memerankan tokoh protagonis yang ke-bapak-bapak-an, dewasa, cerdas, tenang tetapi tangguh dan hebat dalam aksi laganya. Film Taken yang ia bintangi di 2008 memberi saya kesan tentang karakter tersebut pada aktor jangkung ini. Di film tersebut, ia berperan sebagai seorang ayah dan mantan agen CIA yang berjuang sendiri melawan gerombolan penculik anaknya yang sedang berlibur ke Eropa. Apik, ciamik walau memang tetap ada sisi-sisi yang impossible – ya namanya saja film, namun tetap dibalut dengan drama yang kadang menguras emosi saya. Nah, di masa pandemi ini, Liam Neeson muncul kembali di film Honest Thief, yang rilis di 2020. 


Liam memerankan tokoh Tom Dolan, seorang mantan marinir yang menjadi perampok bank yang teliti, rapi dalam bekerja sehingga ia tak terdeteksi dan menjadi buruan FBI selama delapan tahun. Tom tak pernah tertangkap selama itu. Namun, bukan kepiawaiannya merampok bank itu yang diceritakan dalam film ini. Honest Thief lebih bercerita tentang Tom yang ingin bertobat setelah ia bertemu dengan kekasihnya, Annie Wilkins, yang membuatnya sadar diri atas beban kesalahannya merampok bank selama itu. Tom berniat menyerahkan diri ke FBI. Namun, proses ia menyerahkan diri membuatnya harus berhadapan dengan dua agen FBI culas, yakni John Nivens dan Ramon Hall. Singkat cerita, Tom harus berjuang sendiri karena ia dituduh menjadi pembunuh seorang agen FBI senior yang sebenarnya ditembak oleh Nivens. Meski aksi Liam Neeson sebenarnya tidak sehebat saat ia memerankan Brian di film Taken, ada beberapa hal menarik, terutama tentang beragam karakter tokoh yang bermain di di Honest Thief ini.

Tokoh yang pertama tentu saja Tom Dolan yang diperankan Neeson. Seperti saya sebut sebelumnya, karakter Tom ini mirip dengan Brian di film Taken. Tom adalah orang yang tak gentar ketika ia harus menghadapi sendiri musuh-musuhnya, berbekal pengalaman yang ia peroleh saat berdinas di CIA atau militer. Baik Tom maupun Brian sama-sama memegang prinsip: ketika jalur hukum tidak bisa menyelesaikan atau tidak memihak kepadanya yang benar, maka ia akan menggunakan cara sendiri untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tokoh kedua adalah agen Nivens dan agen Hall. Kedua tokoh antagonis ini awalnya berkarakter baik, karena menyandang status sebagai agen FBI. Namun, karena mereka, terutama Nivens, melihat uang jutaan dollar hasil rampokan Tom, ia kalap dan mengajak Hall untuk menyembunyikan uang tersebut, alih-alih melaporkan ke atasannya sebagai barang bukti, seperti pinta Tom saat ingin menyerahkan diri. Nivens justru ingin membunuh Tom untuk menghilangkan jejak. Namun, ketika pistol ditodongkan, tembakan justru tertuju pada agen Baker, tokoh FBI senior yang menjadi atasan Nivens dan Hall. Nivens khawatir Baker telah mengendus rencana busuknya menggelapkan barang bukti. Agak berlainan dengan Nivens, agen Hall ini justru lebih ‘baik’ karakternya. Ia tidak ingin gegabah menodongkan pistol, bahkan sempat mencegah Nivens menggelapkan uang bukti tersebut, menyimpan bukti SD card berisi video keduanya mengangkuti kotak-kotak penuh uang, serta menguak kebenaran di depan Tom saat berhadapan dengan Nivens. Namun, tetap saja, Hall terpaksa mengikuti kemauan rekannya itu. Adalah istri Hall yang dalam cerita berusaha menyadarkan Hall atas kebenaran. Sayang, agen Hall diceritakan tumbang ditembak oleh Nivens sendiri.

Tokoh ketiga adalah agen Sean Meyers, rekan agen Baker yang juga menjadi atasan Nivens dan Hall. Meyers diceritakan sebagai tokoh yang berusaha mencari kebenaran, bukan lantas membabi buta membela anak buahnya yang sedang berusaha memutarbalikkan fakta tentang Tom. Pada akhirnya, Meyers pun tahu bahwa Nivens-lah yang bersalah. 

Boleh dibilang film Honest Thief ini memang tidak terlalu istimewa. Namun, yang menarik adalah karakter-karakter tokoh yang dibuat sedekat dan sealami mungkin seperti dalam kehidupan manusia. Manusia mudah tergoda oleh harta yang banyak. Juga, sebuah pesan lain yang disampaikan dalam film ini adalah: upaya menutupi kesalahan akan memberikan efek domino pada diri seseorang untuk membuat kesalahan yang lain. Pesan ini digambarkan pada tokoh Nivens. Ia berusaha menutupi kesalahan menggelapkan uang sebagai barang bukti kejahatan Tom. Ketakutannya akan terkuak membuat ia menembak agen Baker dan berusaha membunuh Annie, yang menjadi saksi mata saat Nivens dan Hall membawa kardus berisi uang tersebut. 


Senin, 15 November 2021

Memburu Majalah Angkasa

Bagi yang gandrung dunia penerbangan, majalah Angkasa di tahun '90an mungkin bagaikan oase di padang pasir. Mau mencari foto-foto eksklusif pesawat F-16 sampai jumbo jet Boeing 747, ada di majalah bulanan itu. Mau mencari artikel tentang profil 'bintang film' Top Gun yang sebenarnya (baca: F-14 Tomcat), majalah ini berulangkali mengulasnya. Tidak seperti sekarang, cukup kita cari di mbah Google, keluarlah semua informasi atau foto-foto yang diinginkan. Boleh dikata sebelum krisis moneter 1998 adalah periode emas majalah setebal 80 halaman ini. 


Angkasa menarik perhatian saya di tahun 1996, tepatnya sebelum Indonesian Air Show (IAS '96), bulan Juni di tahun yang sama. Entah kenapa, di masa kelas satu SMP, saya lebih suka membaca majalah ini, bukan majalah-majalah sepakbola atau majalah remaja ketika itu. Meski begitu, majalah Angkasa masih merupakan barang mewah. Harganya yang mencapai Rp. 8.000,- per eksemplar terlalu mahal buat anak SMP yang masih menggantungkan uang saku dari orang tua. Jadilah, membeli majalah ini dilakukan tidak rutin, hanya bisa beli ketika diajak bapak ke toko buku atau membuka tabungan. 

Namun, namanya saja getol, gandrung alias suka betul tentang pesawat terbang, aksi blusukan pun rela saya lakukan. Blusukan ke pasar loak, mencari edisi bekas dari majalah ini. Tercatat yang sering disinggahi dulu adalah pasar buku di Kawasan Shopping Centre di Jalan Senopati Jogja (sekarang menjadi Taman Pintar) dan penjual majalah bekas di depan Ramai Mall Malioboro. Dagangan bapak-bapak di kawasan Malioboro ini unik. Majalah Angkasa bisa saya temukan dalam bentuk 'new old stock' (NOS), alias masih baru tapi edisi lama. Dan, tentunya harganya miring, dijual hingga seharga dua sampai empat ribuan saja.

Cerita di Shopping Centre lain lagi. Memang saya sama sekali tidak pernah menemukan majalah dalam kondisi NOS. Namun, saya sering mendapati majalah ini yang sudah berjilid-jilid dan dihargai sangat miring. Selain itu, saya dapatkan juga edisi pertama dari Angkasa semenjak ia menjadi bagian dari Penerbit Kompas di tahun 1990, seperti di foto ini. Sebelumnya, Angkasa adalah majalah internal milik TNI Angkatan Udara. Headline yang diangkat di edisi perdana ini adalah tentang Perang Teluk jilid I. Membaca edisi ini mengingatkan masa ketika saya masih kelas 1 SD yang sayup-sayup mendengar tentang perang besar pertama di era dunia modern.

Setelah bekerja dan bisa punya income sendiri, hampir setiap bulan saya bisa membeli Angkasa di kios-kios pinggir jalan. Hingga 2014, kebiasaan ini berlangsung. Sampai pada akhirnya saya dengar majalah ini berhenti diproduksi pada 2017. 


Rabu, 30 September 2020

Ford v Ferrari

Tak mengherankan jika kemudian film "Ford v Ferrari" menjadi salah satu film terbaik tahun 2019. Dua penghargaan Oscar diraih, untuk kategori film dan sound editing terbaik. Namun, ada yang lebih dari itu.
 

Ending cerita film ini berkisah tentang kebesaran hati legenda balap mobil Ken Miles yang rela laju mobilnya dikurangi agar dapat membersamai dua rekan setimnya menyentuh garis finis. Kala itu, Ken Miles sudah berada di atas angin, tak terkejar lagi dalam ajang balap Le Mans tahun 1966 bersama tim Ford. Ia bahkan mengalahkan Ferrari yang selalu menjadi pemenang di era itu. 

Usai menyentuh garis finis, piala sebagai pemenang ternyata tidak jatuh kepada Miles, namun kepada rekan setimnya yang ia bersamai di akhir lintasan balap. Usut punya usut, ternyata permintaan memperlambat laju mobil ini hanyalah "tipuan"  dari manajer balap Ford, yang memang tidak suka dengan kehadiran Miles. 

Kecewa. Jengkel. Tentu saja. Raut emosi Miles pun digambarkan seperti itu dalam ending film tersebut. Sudah berbaik hati, namun ditikam dari belakang. Miles pada akhirnya bisa menguasai emosi dirinya. Tidak semua orang bisa berbesar hati dan dapat menerima hal semacam ini. Namun, yang jelas, emas tetaplah emas, sekalipun ia dikubur dalam-dalam, ditutup-tutupi serapat-rapatnya. Ia tetaplah cemerlang.

Kamis, 17 September 2020

Overhaul!

Hingga sejauh ini, barangkali upaya merestorasi mobil setengah tua saya yang paling menguras isi dompet adalah pada saat Si SimplyCity, panggilan saya pada mobil ini, harus di-overhaul transmisi matiknya. Episode ini terjadi di awal tahun 2020. Tidak hanya menguras sebagian besar isi tabungan, tetapi juga mengagetkan lantaran saya tak pernah menduga, apalagi merencanakan, untuk melakukan ‘turun mesin’ pada mobil yang baru satu setengah bulan membersamai langkah saya waktu itu.

Awal ceritanya begini. Suatu pagi, mobil ini masih tampak sehat-sehat saja. Bahkan, saya pun sangat merasa percaya diri dengan kondisi Si City ini. Apalagi setelah membaca sebuah ulasan di internet, bahwa Si City Type Z ini punya tenaga sebesar 115 HP, terbesar di kelasnya. Kalaupun diadu dengan mobil-mobil baru saat ini, masih cukup bertaji. Dalam perjalanan, saya pun sempat menggeber mesinnya hingga 80 km/jam. Kecepatan segini bagi para racer mungkin belumlah seberapa, tapi bagi saya adalah sebuah capaian. Inilah pertama kali ‘ngebut’ dengan mobil, hehehe… Masalah muncul bukan pada saat memacu mobil pada kecepatan itu, melainkan pada saat mobil akan dijalankan lagi setelah diparkir sesampainya di tempat tujuan.

Mekanik sedang membongkar transmisi matik Si City

Sekira pukul setengah Sembilan pagi, mobil tak mau berjalan maju sama sekali. Mesin sudah digeber, hingga sampai putaran cukup tinggi. Tetapi, tidak ada energi yang kunjung tersalurkan pada roda-rodanya. Si City sempat saya matikan sebentar mesinnya. Akhirnya, ia mau berjalan dan melaju ke depan. Entahlah apa penyebabnya, ketika itu saya tak bisa menemukan jawabnya. Mesin Si City ini rasanya sehat-sehat saja, tak pernah saya temui ada gejala raungannya tidak normal. Tak berpikir panjang, saya langsung membawanya ke bengkel. Alhamdulillah, Si City sempat kooperatif hingga tinggal beberapa kilometer saja dari lokasi bengkel. Ia sempat mogok lagi, tetapi dengan trik saya matikan mesin terlebih dahulu, ia pun mau bergegas berjalan lagi. 

Jeroan transmisi matik Si City

Sesampai di bengkel, tim mekanik pun sebenarnya tak langsung tahu problem yang mendera Si SimplyCity. Mobil ini hanya dicek dan dibersihkan bagian-bagian mesinnya. Hampir tiga jam saya tunggui, hingga akhirnya saya bawa Si City ini keluar bengkel lagi dan dinyatakan sudah baik. Keadaan memang membaik, namun ternyata tak berlangsung lama. Ia kehilangan traksi lagi saat digeber melaju. Saya putuskan kembali ke bengkel seusai Sholat Jumat di hari itu. 

Kali ini, mungkin mekanik bengkel tidak mau ‘kecolongan’ lagi. Test-driver bengkel pun turun tangan. Ia mengajak saya menguji dan membuktikan problem yang mendera mobil ini. Si City digeber dengan kecepatan tinggi. Awalnya ia biasa-biasa saja. Namun akhirnya ia ketahuan juga sikap tak kooperatifnya, bahkan ia sempat mogok dan harus restart agar bisa berjalan lagi. Test-drive ini berhasil menguak bahwa masalah Si City ternyata ada pada sektor transmisi matiknya, terindikasi dari gejala-gejalanya itu, terutama kehilangan traksi beberapa kali walaupun sudah digas hingga putaran tinggi. Solusi satu-satunya adalah overhaul transmisi matiknya tersebut. Ya, turun mesin!

Jujur, mendengar kata turun mesin dan perkiraan biayanya, saya terkejut bukan main. Tanpa menyebut harga, bila ditotal, biaya overhaul ini mencapai hampir seperempat harga Si City. Tapi tidak ada solusi lain. Saya tetap harus merelakan kocek tabungan saya lagi. Proses reparasi transmisi ini pun tidak sebentar, butuh waktu hingga satu bulan! Cukup lama bagi saya yang masih sangat menikmati mengendarai Si City, mobil impian say aitu.

Satu bulan kemudian, reparasi Si City pun selesai. Saya datang ke bengkel untuk menjemputnya. Ada rasa haru juga begitu melihat Si City mulai menampakkan diri di sela-sela mobil-mobil muda yang tengah diservis di bengkel. Penantian yang cukup lama, at least bagi saya sebulan tak bertemu mobil saya ini rasanya lama. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa merawat mobil tua itu perlu kesabaran, bukan hanya dana tetapi juga waktu. Namun, di balik beragam kerusakan, proses reparasi dan restorasinya, saya menjadi paham tentang seluk beluk permobilan, baik mesin, konstruksi maupun printilan-printilan kecilnya. Lain halnya, mungkin, bila saya mengadopsi mobil yang sama sekali baru; bisa jadi saya masih hanya menikmati mengendarainya saja, sementara tidak terlalu banyak tahu masalah-masalah atau sistem-sistem mekanik maupun elektrik yang ada pada sebuah kendaraan beroda empat ini.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Catatan Ringan Tentang Toy Photography

Genre toy photography atau fotografi mainan barangkali bisa dijadikan pilihan alternatif bagi kita yang tangannya sudah gatal untuk menekan tombol shutter dan memotret objek, namun terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk hunting dengan jalan-jalan atau traveling ke luar rumah akibat pandemi Covid-19 saat ini. Genre ini tidak mensyaratkan kita berinteraksi secara intens dengan orang lain sebagai objek fotonya. Namun, cukup dengan mainan saja yang kita atur sedemikian rupa sehingga dapat difoto dan diperoleh hasil jepretan yang dramatis. Genre toy photography mungkin juga bagai dua sisi mata uang dengan genre miniature photography. Bedanya? Ya hanya di objeknya saja. Menyebut mainan pastinya tidak jauh-jauh dari anak-anak. Tetapi, menyebut miniatur, pastinya kita tahu bahwa ia bukan benda kecil seperti mainan biasa, melainkan sebuah bentuk mini dari benda riilnya dengan dibuat dengan sangat detil dan tentu saja: harganya (bisa jadi) mahal, hahahaa…


Sejak awal pandemi lalu, saya sudah beberapa kali mencoba genre fotografi mainan untuk sekadar mendapatkan pelampiasan bermain dengan kamera di rumah. Objek yang saya foto umumnya masih berupa mobil-mobilan die-cast, yang bentuknya lumayan bagus dan mendekati aslinya. Mobil-mobilan ini sempat saya beli di saat-saat santai ketika masih sekolah dulu, kurang lebih sejak sepuluh tahun yang lalu. Setelah bergulat dengan sejumlah cara untuk mendapatkan foto yang ciamik -setidaknya ciamik menurut citarasa saya, hehehe…- ada tiga hal utama yang bisa saya catat dalam tulisan ini.

Pertama, kita harus pintar-pintar menemukan sudut pandang yang menarik sebelum menekan tombol shutter. Karena objeknya kecil, maka perlu dicari sudut pandang atau angle yang membuat objek seolah-olah riil atau seperti nyata. Memposisikan kamera sejajar atau sedikit di bawah garis tengah atau lebih rendah dari objek bisa jadi salah satu solusi untuk mendapatkan pandangan yang menarik, karena objek menjadi terlihat lebih gagah. Namun, sekali lagi, urusan sudut pandang itu soal rasa pembidiknya, meskipun secara umum bisa dipelajari dan ada aturan umumnya. Dengan kata lain, menjadikan objek enak dipandang itu juga amat tergantung pada cita rasa pemotretnya.

Kedua, perhatikan intensitas dan arah cahaya. Bagaimanapun juga, cahaya adalah faktor terpenting dalam fotografi. Meski kita membidik objek hanya dengan kamera ponsel, foto yang kita beroleh akan ciamik dan keren bila kita tepat menempatkan objek di tempat yang mempunyai pencahayaan yang baik dari segi intensitas maupun arahnya. Mendapatkan tempat yang terekspos cahaya yang terang dan cukup, bahkan mampu memendarkan bagian-bagian penting dari objek, sangat bermanfaat untuk menjadikan objek sedap dipandang. Memanfaatkan cahaya untuk membuat foto silhouette hitam putih dari mainan bisa juga menjadi pilihan menggiurkan untuk dicoba.

Ketiga, mencarikan panggung yang menarik untuk objek. Ukuran mainan atau miniatur yang kecil membuat kita harus cerdik mencarikan atau bahkan membuat panggung untuk latar belakang objek yang kita bidik. Dan inilah proses yang paling kreatif selain mencari sudut pandang dalam fotografi mainan. Bisa jadi kita pilih tanah bebatuan untuk sebuah mobil-mobilan jip, hingga tercitra suasana off-road. Bisa juga kita tempatkan objek mainan di dekat genangan air hingga kita dapatkan efek refleksi. Pun tidak harus genangan air, lantai keramik biasa pun bisa memantulkan bayangan objek dengan baik bila tersiram cahaya yang cukup.

Lalu, bagaimana dengan kameranya? Menurut saya lho ya, tidak ada aturan pakem soal kamera. Tidak harus kamera mahal. Kamera ponsel pun sudah cukup, tinggal kreativitas kita menyiasati keterbatasan-keterbatasan yang ada. Akan lebih menarik bila kita dapatkan foto dengan kamera berlensa makro, sehingga detil objek bisa kita peroleh. Namun, sekali lagi, tidak ada aturan yang pakem, tinggal bagaimana kita bermain dan menikmati sepuas-puasnya mainan dan, tentunya, kamera kita. Selamat mencoba.

Sabtu, 11 Juli 2020

Getaran Kabin dan Masalah pada Engine-mounting


Sebagaimana cerita saya sebelumnya, upaya restorasi terhadap mobil tua bin bekas milik saya berawal dari general check-up mobil tersebut di sebuah bengkel resmi. Dari pemeriksaan awal itu, terurailah beberapa penyakit yang sebenarnya didera oleh mobil saya. Salah satu problem yang cukup kentara dan mudah dikenali saat itu adalah: getaran yang cukup keras hingga masuk ke dalam kabin. Hal ini memaksa saya harus memposisikan shifter transmisi pada posisi neutral sekalipun mobil hanya berhenti sesaat dengan mesin hidup; tidak betah berlama-lama bila berada pada posisi drive atau D sembari menginjak rem saja. Bila tidak, maka bisa dipastikan getaran akan merambat membuat kepala tidak nyaman. Dari hasil analisis bengkel, ternyata getaran ini bersumber dari rusaknya engine-mounting yang mengikat mesin pada dudukan bodi mobil.

Komponen engine-mounting dan timing belt yang telah rusak

Sebenarnya daftar agenda restorasi cukup banyak setelah terungkap dari hasil general check-up, antara lain: engine-mounting, timing belt dan tensiometer-nya, kaki-kaki, serta washer kaca dan motornya yang mati. Selain itu, dari fisik mobil, saya pun tetap mengagendakan restorasi bodi, lantaran karat sudah timbul di beberapa tempat dan cat yang sudah mengelupas.  Tentu saja, banyak agenda yang harus dilakukan berarti banyak juga dana yang harus dipersiapkan. Ada pesan dari ayah saya ketika saya masih belia dulu: ketika kamu membeli mobil bekas, jangan dihabiskan uangnya hanya untuk membeli mobilnya saja. Tetapi alokasikan juga untuk perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Karenanya prioritas saya susun, mengagendakan restorasi secara berurutan dari yang paling penting untuk kelangsungan hidup mobil saya ini. 


Meski sudah tergolong tua, mobil ini saya daulat menjadi mobil harian saya. Ya, karena satu-satunya mobil yang saya punya, hahahaa… Untuk itu, prioritas utama restorasi dan perbaikan adalah sektor mesin. Untuk urusan bodi, saya berkeyakinan insyaAlloh karat-karat yang ada masih tidak terlalu mengganggu konstruksi mobil. Sementara sektor kaki-kaki mobil, juga saya putuskan untuk ditunda dulu sepanjang saya tetap kalem dalam mengendarainya, tidak main ‘off-road’, sebisa mungkin memilih jalan rata selama perjalanan. Toh, ini juga mobil sedan, jalan rata adalah peruntukannya. Hehehe..

Engine-mounting dan lokasinya (Sumber: https://keenparts.com)
Tak berselang lama, agenda mengganti engine-mounting dieksekusi sekaligus timing belt mobil ini. Saya pesan langsung komponen engine-mounting yang orisinil dari bengkel resmi. O ya, engine-mounting ini posisinya ada di antara mesin dan bodi mobil; menyambungkan mesin pada bodi mobil. Ia terbuat dari karet yang dilingkupi logam di beberapa titik-titik yang menghubungkan mesin dengan bodi mobil. Oleh karenanya, kalau saja komponen ini rusak atau karetnya getas, aus atau sobek, maka tidak mustahil getaran mesin akan tertransmisikan masuk ke bodi mobil dan akhirnya getaran masuk ke kabin tanpa bisa diredam oleh karet tersebut. Sementara, timing belt dan tensiometer juga saya pesan yang orisinil dari bengkel resmi. Komponen ini juga krusial. Saya memutuskan untuk mengganti baru, karena saya tidak tahu riwayat komponen lawas ini; tidak diketahui sudah berapa tahun ia terpasang tanpa penggantian. Daripada beresiko putusnya belt ini di tengah jalan karena aus, lebih baik saya menggantinya sekalian.


Proses penggantian engine-mounting, timing belt dan tensiometer ini mengharuskan mobil menginap sehari semalam di bengkel. Singkat cerita, mobil keluar dari bengkel dalam keadaan yang sudah jauh lebih tenang ketimbang hari-hari sebelumnya. Kabin terasa lebih nyaman lantaran getaran yang teredam. Sesuai prosedur, bengkel memberikan kembali komponen-komponen engine-mounting yang rusak. Saya telisik lebih detil lagi. Benar, bahwa engine-mounting sudah dalam keadaan getas dan keras, karetnya sudah sobek di sana-sini. Ya, ilmu baru. Dari semula saya yang buta terhadap permobilan, ada sepercik ilmu tentang engine-mounting yang mengawali saya memahami mesin mobil secara praktis dan memadukannya dengan pemahaman teoritis yang saya peroleh sebelumnya. Asyiknya merawat mobil tua itu ya di situ. Kita jadi tahu komponen, bahkan termasuk harga dan jasa penggantiannya, karena ada saja rusak dan harus diganti.

Minggu, 28 Juni 2020

Kaca Film atau Film Kaca?

Bahasa aslinya: automotive window film. Kalau diterjemahkan, simpelnya: lapisan tipis jendela mobil. Kata 'lapisan tipis' mungkin lebih keren dan ringkas bila tetap ditulis dengan kata 'film'. Nah, entah bagaimana terjemahan window film menjadi kaca film? Bukannya kata benda dan subjeknya adalah kata 'film', bukan 'kaca'? Tetapi, ya sudahlah, memang banyak terjemahan istilah yang tidak tepat di bahasa kita sehari-hari. Hehehe..


Tentang film kaca, agenda saya selanjutnya berkaitan dengan restorasi mobil tua harian saya adalah penggantian lapisan tipis ini. Selama enam bulan lebih mengoperasikan mobil ini, kabin terasa panas di siang hari. Usut punya usut, ya karena efek rumah kaca, dimana radiasi sinar matahari dengan mudahnya masuk dan memanasi kabin, tetapi panas ini lalu terperangkap dan tidak bisa menembus dinding dan kaca mobil. Menghidupkan AC langsung pada saat situasi yang pengap itu rasanya terlalu berat bebannya. Pernah suatu ketika, saya coba mencari tirai penutup untuk meredakan tingginya temperatur kabin di siang hari. Namun, setelah berpikir ulang, saya urungkan membeli barang ini.

Akhirnya, solusi penggantian film kaca ini saya pilih, setelah tentunya menabung dulu karena harga yang lumayan menguras kantong. Pertimbangan lain adalah, film kaca ini mempengaruhi visibilitas atau pandangan saya saat mengemudi mobil. Film kaca yang terpasang selama ini sudah bisa dikatakan usang. Banyak lekukan-lekukan karena terkelupas, terutama di bagian windshield atau kaca jendela depan. Akibatnya, pandangan sering terganggu. Demikian pula usangnya film ini membuat silau karena tak mampu mereduksi pendaran sorot lampu kendaraan lain di malam hari.


Tibalah saat penggantian film kaca. Secara umumnya sederhana. Film kaca lama dilepas, lalu kaca dibersihkan. Kemudian, film baru dipasang. Kalau lancar, mungkin prosesnya hanya dua jam saja, perkiraan saya lho ya... Hanya saja, kesulitan bisa ditemui saat melepas film lama akibat film yang terlalu tua, sehingga teramat lengket pada kaca. 

Ya, ada juga yang bilang, film kaca ini pilihan masing-masing pemilik mobil. Bahkan, ada pula yang tidak menghendaki mobilnya dipasangi film kaca, sehingga tampak detil interiornya. Ada pula yang memasangnya, namun alakadarnya. Ada pula yang mengejar gengsi merek tertentu. Namun, apapun itu, semua kembali pada pilihan masing-masing pemilik mobil, termasuk pertimbangan budget atau ketersediaan dana. Bukankah mobil itu adalah representasi pemiliknya sendiri?

Selasa, 16 Juni 2020

Throwback 2019 (2): Ritech Expo 2019


Melanjutkan cerita perdana Throwback 2019 yang lalu, di tulisan ini saya hadirkan judul Ritech Expo 2019. Ritech Expo 2019 adalah sebuah perhelatan pameran akbar tahunan yang digelar oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti). Tahun 2019, Ritech mengambil tempat di Lapangan Renon, Denpasar, Bali. Karena ketua grup riset kami, Pak Suyitno, sedang berhalangan hingga tidak bisa menghadiri pameran tersebut, jadilah saya yang berangkat membawa bendera grup riset CIMEDs kami ke Denpasar. 


Jujur saja, ini pengalaman saya pertama kali mengikuti perhelatan pameran. Saya sempat berujar ke Pak Yitno, bahwa saya ada rasa tidak pede, gugup untuk datang membawa bendera CIMEDs di pameran tingkat nasional seperti ini. Tapi, Pak Yitno selalu meyakinkan saya: bisa, Bud!

Pameran ini digelar selama empat hari, sejak 25 hingga 28 Agustus 2019. Namun, saya hanya bisa datang dan berada di stan pameran di hari pertama saja, karena pada hari berikutnya saya harus segera bertolak ke Bandar Lampung untuk mewakili CIMEDs sebagai keynote speaker di sebuah seminar internasional.


Hari pertama pameran memang cukup ramai. Banyak hal baru yang saya temui, termasuk bertemu dengan beberapa rekan yang mempunyai stan dengan konten mirip-mirip dengan CIMEDs. Ya, bidang teknologi kedokteran memang sedang naik daun dan beberapa universitas dan Lembaga riset ikut meramaikan bidang ini. Lumayan menghibur, karena dengannya bisa sedikit banyak saling bercerita tentang aktivitas riset yang dilakukan. 

Pengunjung Ritech 2019 ini memang beragam. Kebanyakan orang awam. Apalagi di hari pertama, hari Minggu, Lapangan Renon menjadi salah satu destinasi tempat olahraga masyarakat Denpasar. Setelah berolahraga di pagi harinya, banyak dari mereka yang menyempatkan diri berkunjung ke stan-stan pameran. Karena heterogenitas latar belakang pengunjung inilah, kemampuan berkomunikasi dengan orang awam tentang hasil-hasil riset yang umumnya sangat akademis nuansanya menjadi penting. Di sinilah saya belajar langsung mempraktikkan model komunikasi untuk awam. Ada pengunjung yang biasa-biasa saja responnya, bahkan malah tampak takut kalau saya dekati untuk menjelaskan, hahaha… Namun, banyak pula yang antusias, termasuk seorang wartawan media cetak nasional yang sangat menyenangkan dan cair ketika saya mengajaknya berdiskusi. 


Ya, Ritech 2019 inilah salah satu kenangan manis saya. Membawa bendera CIMEDs ke kancah nasional. Meski di kandang sendiri mungkin CIMEDs tidak begitu didengar, tetapi berupaya sebaik-baiknya agar grup ini bermanfaat dan akhirnya bisa melambai benderanya di kancah yang lebih besar, mungkin adalah suatu hal yang tetap harus disyukuri.

Sabtu, 30 Mei 2020

Pak Subagio dalam Kenangan


Siang itu, akhir tahun 2005. Santap siang di warung makan Kopma UGM kala itu terasa nikmat sekali. Maklum, lapar. Di warung itu, harga sepiring nasi dan lauk untuk makan siang cukup bersahabat bagi kantong seorang mahasiswa era awal millennium. Murah dan banyak pula pilihan menu makanan yang disediakan. Meski saya sudah berstatus bukan mahasiswa lagi sejak lulus tiga bulan sebelumnya, warung makan Kopma UGM di belakang BNI UGM ini masih saja menjadi tempat tujuan saya untuk makan siang. Apalagi saat itu tugas sebagai asisten laboratorium di kampus tempat saya kuliah empat tahun terakhir masih tersematkan.

Tengah asyik berbincang sambil makan siang bersama pacar saya -alhamdulillah kini adalah istri saya- tiba-tiba handphone Siemens dekil saya berdering. Suara khas nada panggil telepon terdengar dari ponsel yang belum mempunyai fitur aplikasi semacam Whatsapp waktu itu. Panggilan telepon berasal dari nomor yang belum saya kenal saat itu. Saya angkat. Tiba-tiba suara seorang bapak-bapak terdengar, “Mas Budi, segera ke kampus. Ini ada rapat jurusan.” Saya mencoba mengenali suara itu dengan cepat, secepat saya harus mengiyakan permintaan bapak tersebut. Benar, saya mengenali suara itu. Itu suara Pak Subagio, dosen saya yang sudah tergolong sepuh di teknik mesin UGM di masa itu. 


Jujur saja, saya sebenarnya berada dalam keadaan setengah bingung. Saya harus segera memutuskan permintaan Pak Bagio, begitu saya sapa beliau, di tengah ketidaksiapan saya untuk sebuah rapat yang saya anggap sangat formal bagi saya. Ketika itu, rapat inilah sebuah rapat yang mengawali periode saya bekerja secara profesional. Saya canggung, saya tahu diri bahwa saya tidak pintar berkomunikasi di depan orang banyak, apalagi dengan kostum minimalis yang saya kenakan saat itu: hanya sepasang sepatu butut warna putih yang sudah pudar, sobek di beberapa bagian, plus jaket bonus pembelian sepeda motor bapak saya. Saya pun akhirnya datang, dengan wajah dan rasa tak percaya diri yang berusaha saya sembunyikan. Saya lawan rasa tidak pede itu ketika masuk ruang sidang, tempat rapat diselenggarakan. Saya duduk di pojok dan mulai mencoba memperkenalkan diri secara personal dengan bapak ibu dosen yang lain.


Saya ikut rapat. Rapat dosen untuk pertama kalinya. Ya, sekira awal November 2005 itu menjadi hari yang bersejarah bagi saya. Meski sudah tidak lagi menjadi ketua jurusan di teknik mesin, Pak Bagio-lah yang memperkenalkan saya di forum. Inilah salah satu momen paling berkesan bagi saya dengan beliau. 


Sebenarnya, perjumpaan saya pertama kali dengan Pak Bagio bisa ditarik sekitar empat tahun beberapa bulan sebelumnya. Yakni ketika saya baru seminggu duduk secara resmi sebagai mahasiswa S1 teknik mesin UGM. Cukup menggelikan momennya, namun tetap berkesan bagi saya. Hari itu Rabu pagi, kuliah perdana Menggambar Teknik bagi mahasiswa semester satu yang diampu oleh Pak Bagio. saya termasuk mahasiswa beliau di kelas tersebut. Awal cerita, saya sudah berangkat cukup pagi dari rumah, berharap pukul tujuh tepat sudah sampai di kelas untuk mengikuti kuliah. Namun, takdir berkata lain. 


Di perempatan Jetis, insiden itu terjadi. Gegara saya ingin mengambil jalan pintas agar cepat sampai kampus, saya menerobos divider jalan, mengambil sedikit jalan di lajur yang berlawanan. Priitt… tiba-tiba suara peluit menggelegar, bersamaan dengan datangnya seorang polisi. Ya, Pak Polisi menghampiri untuk menilang saya. Saya panik. Seumur-umur baru saat itulah saya ditilang. Lantaran harus mengurus surat-surat tilang, jadilah kuliah saya terlambat. Terlambatnya bukan hanya lima atau sepuluh menit, tetapi hanya menyisakan sepuluh menit saja dari keseluruhan jam kuliah pagi itu. Saya mencoba tenang dan tetap masuk ke kelas. Kuliah Pak Bagio tinggal menyisakan waktu bagi beliau untuk meng-absen semua mahasiswanya. Saya tetap masuk kelas dan memohon maaf atas keterlambatan yang teramat parah itu. Saya pasrah, kalaupun dimarahi, ya sudah, tidak apa-apa. Namun, ternyata Pak Bagio tetap tersenyum dan mempersilakan saya untuk duduk. Beliau pun tetap menganggap saya masuk dalam daftar presensi. Barangkali Pak Bagio maklum, anak baru, masih kinyis-kinyis, baru lulus SMA, ikut kuliah telat. Dimaklumi saja, hahahaa…


Selang beberapa tahun di semester-semester akhir masa kuliah S1 saya, pengalaman unik juga saya alami saat berinteraksi dengan Pak Bagio. Pembawaan Pak Bagio sejak dulu saya anggap berwibawa di hadapan para mahasiswa. Ada rasa sungkan. Termasuk dalam peristiwa ketika saya ‘usil’ membuka dan melihat daftar kehadiran dosen di ruang tata usaha, memastikan apakah kuliah yang diajarkan oleh salah satu dosen hari itu isi atau kosong. Tiba-tiba Pak Bagio masuk ke ruangan itu, dan menegur saya. Ujar beliau, saya tidak berhak tahu kehadiran dosen. Kaget sekali saya ditegur. Sambil meminta maaf saya pun undur diri dari handapan beliau. Tetapi setelah saya pikir panjang, akhirnya saya sadar, bahwa sayalah yang salah. Kadangkala karena ingin tahu sesuatu, kita mengambil jalan yang tidak semestinya kita tempuh, tidak benar secara prosedur. Apa haknya seorang mahasiswa tanpa seizin dosen melihat kehadiran dosen yang bersangkutan. Bukankah presensi itu sebenarnya adalah perkara privat yang hanya boleh diakses oleh yang bersangkutan dan pemeriksanya? Pak Bagio mengajarkan saya tentang ini.


Perjalanan hidup membawa saya menjadi lebih sering berinteraksi dengan Pak Bagio di tahun 2006 hingga 2011. Selepas diterima menjadi dosen di teknik mesin, saya ditunjuk menjadi anggota tim yang dipimpin Pak Bagio sendiri untuk merevisi kurikulum teknik mesin UGM. Dari sinilah saya sekali lagi mengenal sosok Pak Bagio dan belajar beberapa hal dari beliau. Misal, tentang visi beliau tentang pendidikan teknik mesin yang seharusnya. Pak Bagio yang merancang grand-design kurikulum, sementara para dosen yang lain hanya melengkapi dan mengkoreksi apabila ada yang kurang. 


Interaksi berlanjut ketika saya akhirnya kecemplung masuk di program rekayasa biomedis, Sekolah Pasca Sarjana UGM untuk menempuh S2. Pak Bagio adalah salah satu founding figures program yang sama sekali gress, sangat baru ini di UGM. Beliaulah tokoh di balik program ini dan saya menjadi salah satu mahasiswa pertama, pilot student, ‘kelinci percobaan’ selain dua kawan saya dari fakultas kedokteran dan kedokteran gigi. Banyak ketidakpastian di program yang berlangsung selama tahun 2006-2008 ini. Namun, Pak Bagio bersama tiga dosen utama lainnya tampaknya cukup gigih mempertahankan program ini agar berhasil. Di masa perdana ini, program pasca sarjana rekayasa biomedis dicangklongkan dengan program serupa yang dipunggawai enam universitas Asia dan Eropa. Ada Ghent University (Belgia), University of Groningen (Belanda), Leeds University (Inggris), Indian Institute of Technology (India), ITB dan UGM (Indonesia). Pada episode inilah saya lebih banyak berinteraksi dengan Pak Bagio, sekalipun interaksi itu masih layaknya dosen dan mahasiswanya, senior dan juniornya. Saya menghormati beliau, sebagai dosen saya, sebagai senior saya. Meski begitu, di episode inilah saya menjadi lebih banyak tahu tentang sisi-sisi humor dalam kehidupan beliau. Seingat saya, beberapa kali tim dosen di kampus bingung dengan apa yang harus mereka lakukan dalam mengelola program S2 baru yang saya ikuti. Banyak kali, Pak Bagio tampil sebagai problem solver-nya. Tidak dengan wajah tegang, tetapi dengan cara beliau sendiri yang sering lucu dan membuat orang tertawa. Tepatnya, mungkin kalau boleh saya sebut Pak Bagio punya jurus “menggampangkan masalah” untuk menyelesaikan masalah itu sendiri. Tetapi uniknya, ternyata solusi yang ditawarkan Pak Bagio seringkali berhasil! Agustus 2008, program S2 dengan skema program kerjasama internasional enam universitas pun berakhir dan ditutup di Delhi, India. Alhamdulillah, saya pun mampu menyelesaikan program ini tanpa meninggalkan sisa tugas yang harus disusulkan. Ada raut senang yang saya tangkap dari Pak Bagio, mengetahui juniornya bisa membereskan tugas sebagai pilot student ini tepat pada waktunya.


Waktu terus berlalu, membawa saya di era tahun 2009 hingga 2011. Yang teringat di tahun 2009 adalah, sebuah “pembelaan” dari Pak Bagio dalam sebuah forum di kampus. Cerita berawal dari sebuah diskusi untuk memetakan potensi dan kelanjutan studi staf pengajar di kampus. Saya, ketika itu, masih belum kunjung juga mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi S3. Dalam forum, sempat dibahas, bagaimana apabila para dosen muda ini diminta segera sekolah, walaupun di kampus sendiri. Jujur, sejak berjibaku sebagai mahasiswa S2, saya merasa tidak terlalu nyaman ‘sekolah di kandang sendiri’. Saya ingin merantau ke negeri lain, hingga saya bisa belajar banyak di luar sana. Sangat tidak nyaman perasaan saya ketika mengikuti forum diskusi itu. Namun, Pak Bagio tampil di forum itu. Tanpa ada diskusi awal dengan saya, seolah beliau tahu isi hati saya. “Saya kira, untuk Mas Budi biarkan saja mencari sekolah sendiri dulu. Dia masih muda, masih banyak waktu.” begitu kira-kira kata-kata Pak Bagio yang saya ingat. Sebuah pembelaan bagi saya, hehehe… 


Jika pembaca sempat mengikuti kisah saya di tahun 2010-2011, ada perjalanan hidup yang berkesan bagi saya. Ceritanya bisa disimak di link ini. Singkat cerita, saya pulang kembali ke Indonesia setelah tidak berhasil melanjutkan program S3 saya di University of Groningen. Saya pulang dan kembali ke kampus tanpa membawa hasil atau capaian akademik sesuai harapan pada awal April 2011. Ya, kepulangan saya pun mungkin mengawali masa yang sedikit sulit hingga tiga bulan ke depannya. Saya tidak punya jadwal mengajar, karena saya datang tidak di awal semesteran. Praktis tidak ada kegiatan yang wajib saya lakukan di kampus ketika itu. Namun, saya masih punya tim riset yang menjadi tempat saya berkreasi kembali di masa yang relatif sulit itu. Saya jalankan agenda riset saya yang sempat tertunda karena studi tak selesai saya di tahun 2010 di Belanda. Selebihnya, tidak ada kegiatan lain. Di tengah situasi ini, tiba-tiba saja sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Dari Pak Bagio. Sebuah permintaan untuk menggantikan jam mengajar beliau tentang sistematika desain. Pak Bagio memberikan ‘jatah’ mengajar beliau ke saya, hingga saya pun bisa masuk dan mengajar di kelas. Ketika saya konfirmasi permintaan beliau ini secara langsung, ada semburat kepercayaan beliau kepada saya untuk mengampu kuliah ini. Inilah jiwa besar Pak Bagio yang saya rasakan bagi saya. Beliau percaya kepada saya, lantaran beliaulah saksi bahwa saya dulu pernah mengambil dan menyelesaikan kuliah sistematika desain ketika S2 lalu.


30 November 2019. Tanggal inilah yang saya ingat sebagai momen terakhir bertemu Pak Bagio. Pertemuan tak sengaja di jalan menuju parkiran motor dan mobil pada acara resepsi kawan yang sedang digelar. Saya bersalaman, saling tersenyum menanyakan kabar masing-masing. Sejak itu, kami tak pernah bersua lagi. Hingga tersiar kabar Alloh Yang Maha Kuasa memanggilnya kembali ke haribaanNya pada 17 Mei 2020 silam. Cerita yang lumayan panjang ini lalu meletup seusai sholat tarawih malam hari itu, teringat masa-masa bersama beliau. Semoga Pak Bagio kembali dalam kedamaian, mendapatkan ampunan dan rahmat dari Alloh Swt, serta mendapatkan balasan atas semua kebaikan-kebaikan yang pernah beliau lakukan. Mungkin, cerita ini subjektif, berangkat murni dari pengalaman saya bersama beliau. Tetapi, semoga saja cerita ini adalah salah satu saksi atas kebaikan-kebaikan beliau. Selamat jalan, Pak Bagio…