Senin, 25 Januari 2016

Malaysia Airlines dalam Rajutan Kenangan



Beberapa bulan yang lalu, tersiar kabar yang sempat mengusik perhatian saya. Maskapai penerbangan Malaysia Airlines yang melayani rute Kuala Lumpur (KUL) – Amsterdam (AMS) akan ditutup di awal tahun 2016. Pagi ini, saya terhanyut sejenak dalam sebuah nostalgia, gegara membaca sebuah artikel tentang penutupan jalur KUL-AMS maskapai dengan kode MH tersebut pada hari ini, 25 Januari 2016 (simak beritanya di sini). Saya memang tidak terkejut, namun bagi saya, maskapai negeri tetangga ini menorehkan banyak kenangan untuk saya, terutama saat harus terbang menuju benua biru.

Perjumpaan pertama saya dengan MH terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika saya hendak memenuhi undangan sebuah interview di University of Groningen (RuG), Belanda. Saya harus terbang ke Amsterdam. Meskipun biaya perjalanan saya ditanggung sepenuhnya oleh RuG, saya diberikan kebebasan memilih maskapai apa yang akan saya tumpangi menuju Belanda. Bingung juga, karena di masa itu saya hanya mempunyai pengalaman satu kali terbang ke Belanda. Itupun bisa dibilang saya hanya tinggal terbang saja, alias tidak mengurus sendiri tiket penerbangannya.

Yang terpancang kuat di kepala saya waktu itu adalah mencari maskapai yang menyediakan makanan halal selama penerbangannya. Hal ini berangkat dari pengalaman saya ketika terbang ke Belanda yang saya singgung di atas. Kala itu, saya menggunakan sebuah maskapai yang ternyata tidak menyediakan makanan halal selama penerbangannya dari Bangkok ke Amsterdam. Akibatnya, saya rela hanya mengkonsumsi snack ringan selama hampir 10 jam dalam pesawat. Singkat cerita, karena tidak ada maskapai lokal seperti Garuda Indonesia yang melayani jalur ini, terpilihlah Malaysia Airlines untuk mengantar saya ke Belanda kedua kalinya. Pilihan saya ini tidak mengecewakan. Selama penerbangan, bukan hanya fasilitas on-board entertainment yang bisa saya nikmati, melainkan juga hidangan nasi lemak yang bisa dilahap habis sebagai pengganjal perut saat penerbangan. Pun saat pulang menuju Jogja, saya masih setia dengan maskapai ini. 
 
Boeing 747 Malaysia Airlines yang terparkir di Schiphol International Airport, Amsterdam sebelum membawa saya pulang ke Yogyakarta pada 27 November 2009
Siang hari, 23 Februari 2010, cerita saya dengan Malaysia Airlines berulang, ketika perjalanan saya untuk melanjutkan studi di RuG dimulai. Kali ini perjalanan saya tidak seorang sendiri, melainkan berdua bersama istri. Perjalanan ini pun menempuh rute yang sama dengan perjalanan saya sebelumnya, yakni dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta, lalu transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), hingga akhirnya sampailah di Schiphol Amsterdam, Belanda keesokan harinya. “Mendaratnya sangat lembut.” begitu komentar istri saya setelah kami mendarat di Schiphol, Amsterdam. Memang benar, setelah beberapa kali naik pesawat lokal, saya bisa membandingkan dan menilai teknik pilot MH yang jempolan saat mendaratkan pesawat jumbo Boeing 747-nya. Sangat halus sehingga para penumpang tidak merasakan guncangan keras saat roda-roda pesawat menyentuh landasan.

Akhir Maret 2011, saya kembali ke Jogja setelah satu tahun tinggal di Belanda. Lagi-lagi, Malaysia Airlines menjadi pilihan saya dan istri untuk mengantar perjalanan kami pulang ke Indonesia. Kali ini, kami terbang bertiga, bersama anak kami yang masih berumur 5,5 bulan. Sebelum terbang, sempat terbayang di benak kami repotnya bepergian membawa bayi menempuh jarak super jauh dari Amsterdam ke Yogyakarta yang akan kami jalani waktu itu. Namun, ternyata praduga kami berlebihan. Selama perjalanan, justru kami mendapatkan berbagai kemudahan dan bantuan para kru di maskapai ini. Hingga sekarang, kami selalu ingat, seorang pramugari asal Bandung yang ramah menyambut kedatangan kami di kabin pesawat maskapai ini. Mungkin karena melihat kami bepergian dengan seorang bayi, sehingga ia selalu menawarkan bantuan selama berada dalam kabin. Begitu pula saat kami mendarat di Jogja. Kami sengaja keluar terakhir dari pesawat karena memerlukan sedikit waktu untuk mempersiapkan anak kami menghadapi cuaca yang jauh lebih panas dibandingkan saat di Belanda. Sebelum kami keluar, para pramugara dan pramugari mengajak kami berbincang sebentar, lalu ‘menyalami’ sambil melepas kami dengan senyuman. 

Kali terakhir saya bersua dengan Malaysia Airlines rute Kuala Lumpur – Amsterdam adalah saat berangkat lagi ke Belanda 3 September 2012 silam. Mungkin saya memang berjodoh dengan maskapai ini, karena tiket perjalanan sudah dipesankan oleh biro perjalanan rekanan pemberi beasiswa saya. Praktis, saya hanya menerima e-ticket-nya saja, lalu berangkat. Saya berangkat dengan MH dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, lalu transit di Kuala Lumpur sebelum akhirnya mendarat di Schiphol Amsterdam di hari berikutnya. 

Boleh dibilang, hingga detik ini, Malaysia Airlines adalah maskapai penerbangan yang paling sering saya tunggangi untuk pergi ke atau dari Amsterdam, Belanda. Oleh karenanya, sungguh sedih rasanya mendengar musibah pesawat Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines yang ditembak jatuh di daratan Ukraina pada 17 Juli 2014 lalu. Pesawat ini melayani rute Kuala Lumpur – Amsterdam. Dan kini rute tersebut telah ditiadakan. Namun, apapun itu, tetap ada rajutan kenangan yang tertinggal bersama maskapai penerbangan ini.

Minggu, 03 Januari 2016

Amsterdam dan Kenangan Belajar Seorang Bocah

Amsterdam. Saya mengenal nama kota terbesar di Belanda ini bukan lewat hafalan pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) di bangku sekolah dasar seperempat dekade silam. Di masa itu, hafalan nama-nama ibukota atau kota besar di dunia menjadi salah satu dari isi kurikulum pokok pelajaran IPS siswa sekolah dasar (SD). Namun, Amsterdam ternyata saya kenal pertama kali bukan lewat pelajaran IPS yang mulai diajarkan sejak kelas 3 SD di masa itu. Saya tahu Amsterdam jauh hari sebelum saya masuk SD, apalagi mengenal mata pelajaran IPS. Saya mengenalnya lewat program prakiraan cuaca yang ditayangkan selama beberapa menit saja dalam siaran Dunia Dalam Berita di stasiun televisi pemerintah, TVRI. Sekedar informasi, TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi hingga penghujung era tahun 80an di Indonesia. 


Acara prakiraan cuaca itu ternyata cukup efektif menjadikan saya yang seumur jagung itu tahu nama-nama kota besar di dunia, mulai dari Jakarta, Bangkok, Hongkong, Tokyo, Paris, New York hingga Amsterdam. Imajinasi saya bergolak menyaksikan acara itu, lantaran saat nama-nama kota besar tadi disebut, muncul pula foto lansekap dan laporan kisaran temperaturnya di layar televisi. Sesekali saya bertanya kepada ibu di negara manakah kota yang disebut tadi. Dengan sabar ibu pun menjawab rasa ingin tahu saya itu. Ritual nonton acara prakiraan cuaca dunia tersebut selalu dilakukan hampir tiap hari menjelang saya tidur malam, meski jarum jam sudah menunjuk pukul setengah sepuluh malam. Sungguh momen ‘belajar’ yang menyenangkan dan indah untuk dikenang.

Dari sekian banyak kota yang disebut dalam program prakiraan cuaca dunia itu, Amsterdam adalah salah satu nama kota yang masih melekat dalam pikiran bawah sadar saya hingga detik ini. Saya masih ingat aksen pembawa berita yang dalam dan terkesan serius saat menyebut kata ‘Amsterdam’, khas penyiar suara berita di era itu. Hampir dua puluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 2006, saya menjejakkan kaki saya pertama kali di tanah Amsterdam. Sebuah cerita yang mirip dengan kisah Ikal dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, ‘kan? Berawal dari imajinasi pada sebuah gambar, berakhir pada petualangan di kota yang diimajinasikan. Bedanya, Ikal berimajinasi dengan gambar Menara Eifel di sebuah kotak pemberian gadis idamannya di masa kecil, sedangkan saya ‘cukup’ berimajinasi dengan gambar-gambar kota yang ditayangkan pada siaran prakiraan cuaca di televisi. Namun, bagi saya, ada pesan yang lebih penting dari sekedar imajinasi dan mimpi di masa kanak-kanak serta realisasinya di masa sekarang. Kisah seperti ini rasanya sudah banyak diceritakan oleh para pelajar Indonesia yang saat ini akhirnya bisa studi di luar negeri, entah memang karena mimpinya di masa kanak-kanak dulu atau karena terinsipirasi oleh karya-karya Andrea Hirata dalam buku tetralogi Laskar Pelangi.

Bagi saya, ajaran tentang Amsterdam dan kota-kota dunia yang lain dari siaran prakiraan cuaca mengandung sebuah pesan tentang bagaimana metode belajar seorang individu. Walaupun akhirnya saya bisa melaluinya, hafalan ternyata bukan cara efektif saya dalam belajar. Justru lewat siaran prakiraan cuaca di Dunia Dalam Berita tersebut, saya ‘belajar’ salah satu topik utama ilmu geografi dan mampu mengingatnya dengan baik di masa selanjutnya, tanpa harus bersusah payah menghafal deretan nama-nama kota di dunia dalam buku pintar. Lewat acara prakiraan cuaca itu, secara tidak sadar, otak saya sepenuhnya bekerja bersama hati yang gembira dan rasa ingin tahu yang besar. Seingat saya, pada saat nama-nama kota di dunia itu disebutkan, batin saya menyeruak, ingin tahu seperti apa kota itu, di negera mana kota itu berada, hingga berapa jauh dari Indonesia. Walaupun ibu tidak sepenuhnya bisa menjawab keingintahuan saya itu, curiosity semacam ini membuat pikiran saya semakin tertarik dengan ilmu geografi dan dunia. Saya pun lalu tertarik belajar tentang bola dunia atau globe di kelas tiga SD, hingga akhirnya dibelikan sebuah rautan pensil berujud miniatur bola dunia itu –karena miniatur yang sesungguhnya cukup mahal harganya. Kemudian, bapak saya juga membelikan sebuah peta besar yang menggambarkan kepulauan dan benua di dunia untuk ‘mengobati’ hausnya saya tentang geografi dunia waktu itu. Peta tersebut ditempel layaknya poster di dinding tripleks kamar tidur saya, sehingga mau tidak mau saya selalu menatapnya setiap malam. Dengan cara seperti inilah, belajar peta dunia menjadi menyenangkan bagi saya.

***

Akhir tahun 90an, saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), saya tertarik membaca sebuah buku yang mengiyakan cara saya belajar tadi. Buku tersebut bertitel Quantum Learning, karya Bobbi DePorter yang diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia oleh Mizan. Saya membacanya tepat pada saat saya mulai menemukan kejenuhan dalam belajar di SMA. Walaupun SMA saya ini dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan nasional, seringkali saya merasa ‘tidak nyaman’ dengan cara saya belajar di dalamnya. Dalam mengerjakan soal-soal dari guru, saya kalah cepat dibanding kawan-kawan saya di kelas, hingga nilai saya sering di bawah normal, hehehe… Namun, saya tetap berpendirian bahwa kelambanan saya dalam akademik ini bukan sepenuhnya berasal dari kecerdasan atau kegagalan belajar saya. Dari buku karya DePorter tadi, saya mendapatkan pencerahan bahwa metode belajar setiap orang itu berbeda-beda, karena memang dari sono-nya setiap anak dianugerahi bakat masing-masing. Saya lantas mengenal metode belajar visual, auditorial dan kinestetik. Lalu, yang paling penting, informasi atau segala sesuatu yang dipelajari akan terserap dengan baik dalam bentuk hafalan maupun pemahaman apabila kita senang atau gembira saat melalui proses belajar tadi. Dari sinilah, saya tarik sebuah benang penghubung antara pengalaman masa kecil saya dengan persoalan belajar yang saya alami di kala SMA itu. 

Saya pun mulai merekayasa cara belajar saya, dari yang sebelumnya tunduk patuh pada cara belajar konvensional –yang nyata-nyata sering membuat saya frustasi sendiri- menjadi sebuah cara yang saya usahakan menyenangkan bagi saya sendiri. Termasuk di dalamnya, saya berusaha menerapkan kombinasi teknik visual dan kinestetik yang ternyata merupakan teknik belajar yang paling efektif untuk saya. Hasilnya memang tidak lalu fantastis dan tidak serta-merta membuat saya cerdas dan unggul. Namun, saya merasa lebih bahagia ketika saya tahu teknik belajar yang paling sesuai dengan diri saya sendiri. Ketika rasa senang, gembira dan bahagia itu ada di kala belajar, saya yakin bahwa itulah esensi dari hidup dan belajar itu sendiri. Belajar itu untuk senang, belajar itu untuk gembira dan belajar itu untuk bahagia. Potret Amsterdam dalam program prakiraan cuaca di televisi hampir tiga puluh tahun silam mengajarkan saya tentang hal ini. 

Sabtu, 26 Desember 2015

Ridderzaal dan Konferensi Meja Bundar 66 Tahun yang Lalu

Barangkali tidak banyak orang yang tahu, bahwa Ridderzaal yang berada di kompleks parlemen Belanda di Binnenhof, Den Haag ini menyimpan kenangan tentang perjuangan bangsa Indonesia di awal terbentuknya republik ini.

Ridderzaal

Dalam otobiografinya, salah satu proklamator RI, Mohammad Hatta menyinggung nama Ridderzaal sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar antara Republik Indonesia dan Belanda. Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai wakil presiden merangkap perdana menteri RI menuturkan, "Pada tanggal 23 Agustus 1949 Konferensi Meja Bundar dibuka di Den Haag, bertempat di ruangan Ridderzaal. Pada tanggal 29 oktober konferensi itu selesai dan Konstitusi Republik Indonesia Serikat diparaf di Scheveningen." (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan, 2011, hal. 217).

Peristiwa bersejarah tersebut juga diliput oleh Rosihan Anwar yang hadir sebagai wartawan untuk meliput KMB di Den Haag. Dalam bukunya tentang perjalanannya ke Belanda beberapa tahun silam, beliau menuturkan "Saya mulai berjalan didampingi oleh Febriyanti Sukmana di Ridderzaal Twede Kamer, Parlemen Belanda, Binnenhof Den Haag, siang 23 Desember 2009. Saya berucap: Di sini, 60 tahun lalu berlangsung upacara pembukaan resmi Konferensi Meja Bundar (KMB), Ronde Tafel Conferentie (RTC), 23 Agustus 1949, untuk mewujudkan penyerahan kedaulatan (souvereiniteits overdracht) dari Kerajaan Belanda kepada negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS)." (Rosihan Anwar, dalam buku "Napak Tilas ke Belanda", 2010, hal. 1).

Jumat, 25 September 2015

Mengingatnya Kembali, Saat Kita Sedang Redup

Namanya juga manusia, ada kalanya ia bersemangat menyala-nyala. Namun, ada pula saat-saat semangatnya meredup. Seperti kadar keimanan seseorang, bisa naik, bisa pula turun. Hanya kita sendiri yang bisa berkompromi terhadapnya. Mengandalkan orang lain untuk menyemangati kita sama saja menjadikan diri kita reaktif, hanya menyerah kepada keadaan. Efek lebih buruknya, menjadikan kita sebagai insan yang mudah dipermainkan situasi, karena kita adalah apa yang dikatakan orang lain. 

Memang, keberadaan orang lain yang ikhlas dan setia ‘membantu’ kita menghadapi masa-masa pelik tak terbantahkan pentingnya dan manfaatnya. Namun, pada akhirnya, semua pulang pada diri kita sendiri. Sehebat, sebanyak maupun sebermakna apapun kata-kata, sekuat apapun pelukan, serta sedekat apapun batin orang lain dengan kita, kalau kitanya sendiri tidak beranjak mengajak diri ini untuk kuat lagi, maka sia-sia saja akhirnya.

Alhamdulillah, sepatutnya kita memang harus bersyukur diberikan ingatan. Ingatan-ingatan akan masa silam. Orang bijak memang bilang, masa lalu biarlah berlalu, kau tidak akan pernah bisa mereguknya lagi. Dirimu adalah hari ini dan esok hari. Namun, rasanya tidak tepat juga bila lantas kita lupakan semua masa-masa lalu. 

Mengingat masa lalu tidak selalu berarti gagal move-on. Justru puing-puing masa lalu, yang tentunya punya makna tersendiri, entah pahit maupun manis, seringkali menjadi salah satu pilar yang menyangga spirit, semangat kita sendiri. Hanya kita sendiri yang tahu dan bisa memilih dan memilah, menjadikan ingatan-ingatan masa lalu tadi bermakna dan akhirnya menyalakan api semangat yang tengah meredup.

Minggu, 30 Agustus 2015

Menyambangi Pasar Keju di Gouda

Bagi kebanyakan orang, Gouda mungkin bukanlah sebuah kota yang populer di Belanda. Tidak seperti Amsterdam, Den Haag atau Rotterdam yang selama ini menjadi kota tujuan wisata dan gampang ditemui di berbagai artikel, buku, maupun brosur wisata di Eropa. Gouda memang hanya kota kecil dan bukan pula kota pendidikan seperti Utrecht, Leiden, Delft maupun Groningen. Namun, Gouda ternyata memiliki ciri khas sendiri yang membuatnya berbeda dibandingkan kota-kota yang lain di Belanda. 

Gouda Kaasmarkt!
Adalah keju yang membuat Gouda terkenal. Keju, atau kaas dalam bahasa Belanda, menjadi objek yang diunggulkan oleh pemerintah Kota Gouda untuk menarik perhatian wisatawan yang sedang berkunjung ke Belanda. Meski kotanya kecil, Gouda dikenal sebagai penghasil keju di Belanda. Keju buatan orang Gouda dikenal dengan nama Goudse Kaas dan hampir selalu dapat ditemui di berbagai supermarket di Belanda. Untuk menjaga kelestarian tradisi membuat keju istimewa ini, pemerintah setempat mengadakan sebuah event khusus yang mereka sebut dengan Gouda Kaas Markt, atau pasar keju Gouda. 

Mas-mas dan mbak berpakaian tradisional Belanda turut meramaikan pasar unik ini.
Katanya, beginilah cara tawar menawar secara tradisional dalam transaksi jual-beli keju. Mirip seperti main hom-pim-pa, tapi telapak tangan dari penjual dan pembeli saling bertepuk satu sama lain sambil menawar harga keju. 
Pasar keju di Gouda diadakan setiap hari Kamis selama musim semi dan panas, tepatnya selama bulan April hingga Agustus, dengan mengambil tempat di pelataran centrum atau pusat Kota Gouda. Di tempat ini pula, berdiri megah gedung balai kota atau stadhuis, yang mempunyai arsitektur unik dan kini difungsikan sebagai museum. Di pasar ini, pengunjung akan menjumpai jejeran keju yang dipajang selama hampir setengah hari. Selain itu, beberapa orang sengaja berpakaian tradisional Belanda dan menunjukkan bagaimana proses bongkar-muat dan jual-beli keju di masa lalu terjadi di Belanda. Suasana tradisional semakin terasa ketika sepasang kuda datang menarik sebuah gerobak tradisional yang digunakan sebagai alat angkut keju di masa silam. Sementara itu, sepasang kuda yang lain datang menarik sebuah kereta yang bertuliskan ‘De Goudse Kaasexpress’ dan mengusung beberapa buah keju di atapnya. Atraksi unik ini dipandu oleh seorang MC yang menjelaskan jalannya acara dalam bahasa Belanda. Pengunjung juga dapat menyambangi museum keju bila ingin menyaksikan lebih detil segala sesuatunya tentang keju di Gouda. Letak museum ini berada persis di seberang pasar keju.
Sepasang kuda menarik kereta 'De Goudse Kaasexpress' dengan jejeran keju di atapnya. Di belakangnya berdiri sebuah museum tentang keju.
Pasar keju dengan latar belakang balai kota Gouda yang unik arsitekturnya.

Secara geografis, Gouda terletak di antara dua kota besar di Belanda, yakni Rotterdam dan Utrecht. Pembaca hanya perlu menyisihkan waktu 18 menit saja dengan kereta untuk pergi menuju Stasiun Gouda dari Stasiun Rotterdam Centraal, yang menjadi salah satu hub utama jaringan kereta di Belanda. Harga tiket kereta untuk rute ini dipatok 4,9 Euro sekali jalan. Sesampainya di stasiun kereta Gouda, pengunjung dapat berjalan kaki sekitar 10 menit menuju centrum kota tersebut. Bila musim semi atau panas tiba, pembaca sedang berada di Belanda dapat menyambangi pasar keju Kota Gouda ini sebagai tujuan wisata alternatif. Mengunjunginya juga membuat pembaca belajar bagaimana tradisi jual-beli keju di Belanda ini dilestarikan, hingga akhirnya negeri kincir angin ini juga dijuluki sebagai negeri penghasil keju di dunia.

Minggu, 16 Agustus 2015

Sehari di Liege


Liege, sebuah kota di Belgia yang berbatasan langsung dengan dua wilayah di dua negara: Maastricht di Belanda dan Aachen di Jerman. Ketiganya membentuk titik tiga negara di suatu tempat yang disebut Drielandenpunt dalam bahasa Belanda. Meski demikian, dibanding kedua kota tetangganya tersebut, sepertinya Liege kurang begitu populer. Di Belgia sendiri, Liege juga tidak setenar Brussels, Antwerp dan Brugge. Namun, ternyata kota di timur laut Belgia yang dibelah oleh Sungai Meuse ini tetap mempunyai keunikan tersendiri.

Liege (Sumber gambar: kids.britannica.com)
Perjalanan saya menuju Liege kali ini diawali dari stasun Rotterdam Centraal di Belanda. Perlu diketahui, stasiun ini merupakan salah satu hub utama jaringan kereta di Belanda. Dari Rotterdam, saya melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Maastricht, kota di Belanda yang berbatasan langsung dengan Liege. Perjalanan dari Rotterdam ke Maastricht ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam melalui Stasiun Eindhoven untuk berganti kereta. Normalnya, tiket kereta Rottedam-Maastricht dapat dibeli dengan harga 24,7 Euro. Namun kali ini, saya menggunakan dagkaart, tiket murah seharga 13,99 Euro yang dijual selama periode tertentu di Kruidvat, sebuah jaringan toko kebutuhan sehari-hari di Belanda. Walaupun hanya bisa dipakai di hari Sabtu dan Minggu selama periode tertentu, tiket seperti ini dapat digunakan untuk bepergian kemanapun dengan kereta di dalam wilayah Belanda selama satu hari penuh.

Kiri: Kereta yang menghubungkan antara Maastricht dan Liege-Guillemins. Kanan: Tiket-tiket yang digunakan untuk perjalanan kereta menuju dan dari Liege.
Sampai di Maastricht, perjalanan dilanjutkan menuju Liege dengan kereta milik perusahaan kereta Belgia. Perjalanan menuju Stasiun Liege-Guillemins dari Maastricht ditempuh selama kurang lebih setengah jam saja. Tiket yang saya pakai seharga 6,2 Euro saja untuk pulang-pergi dan bisa dibeli di mesin tiket ataupun Stasiun Maastricht.
Stasiun Liege-Guillemins
Liege, atau dalam bahasa Belanda ditulis ‘Luik’, mempunyai daya tarik tersendiri. Kotanya beraroma budaya Prancis, termasuk bahasa sehari-hari yang dipakai penduduknya. Stasiun Liege-Guillemins sendiri mempunyai arsitektur yang unik, dibangun membentuk jaring-jaring struktur melengkung yang anggun dan berwarna putih. Dari stasiun ini, saya bersama keluarga dan kawan berangkat menuju beberapa titik kota utama yang memang sengaja sudah kami persiapkan sebelumnya, antara lain pusat kota, Palais des Princes Evêques dan bangunan tangga Montagne de Bueren. Meski sudah dipersiapkan sebaik mungkin, ternyata keadaan di lapangan selalu penuh dengan kejutan, termasuk tersesat di tengah kota dan hujan. Beruntung, seorang polisi yang sedang berpatroli di dekat area tersebut membantu menunjukkan arah tempat-tempat yang ingin kami tuju.

Palais des Princes Evêques
Tujuan kami di Palais des Princes Evêques akhirnya tercapai setelah ‘tersesat’ beberapa kali di dalam kota Liege. Istana besar tersebut konon merupakan tempat tinggal Prince Bishop di abad ke-10. Pemugaran dan penambahan bangunan di area istana ini dilakukan beberapa kali setelahnya. Saat ini, bangunan bersejarah ini digunakan untuk kepentingan pemerintah provinsi Liege. 

Pusat kota atau centre Liege
Dari Palais des Princes Evêques, perjalanan kami dilanjutkan menuju Montagne de Bueren, bangunan mendaki dengan 343 anak tangga menuju sebuah bukit di Liege. Dalam perjalanan menuju tempat tersebut, kami melalui pusat atau centre kota Liege, yang ukurannya sebenarnya tidaklah terlalu besar. Namun, tetap menarik untuk dikunjungi. Kurang lebih berjalan 15 menit dari Palais, sampailah kami di Montagne de Bueren. 

Montagne de Bueren
Pemandangan Kota Liege dengan Sungai Meuse-nya dari Montagne de Bueren
Konon, bangunan bersejarah ini dibangun untuk memudahkan pasukan Belgia yang berjaga di bukit tersebut untuk turun menuju pusat kota Liege. Di puncak bukit, pengunjung dapat menyaksikan indahnya pemandangan kota Liege dengan Sungai Meuse dan jembatan-jembatan besar yang membelahnya. Tidak jauh dari anak tangga terakhir di Montagne de Bueren terdapat sebuah monumen yang berkisah tentang para prajurit Belgia pada Perang Dunia I dan II.

Monumen di puncak bukit Montagne de Bueren
Area di puncak bukit Montagne de Bueren
Selama empat jam saya mengitari kota Liege sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Rotterdam. Rute kembali menuju Rotterdam ditempuh dengan jalur yang sama pada saat berangkat, yakni melalui Maastricht dan Eindhoven. Total waktu perjalanan dan berwisata ke Liege kali ini adalah sekitar 12 jam, cukup memuaskan untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati kota seperti Liege.

Senin, 03 Agustus 2015

Gowes Rotterdam

Mau liburan yang super hemat tapi tetap memuaskan? 

Ada banyak alternatif jawaban dari pertanyaan di atas, karena budget terbatas hampir selalu membuat setiap orang lebih kreatif, termasuk dalam merencanakan kegiatan di kala liburan. Yang jelas, liburan di musim panas di Belanda (zommervakantie), sayang sekali bila dilewatkan begitu saja. Hanya saja, liburan musim panas tadi seringkali dibarengi dengan kondisi anggaran yang sudah tipis, yang mungkin hanya cukup untuk menopang hidup secara normal, tanpa agenda berlibur ke kota-kota lain baik di dalam maupun luar Belanda. Meski begitu, solusi tetap harus dihadirkan, karena momen liburan di bawah sorot mentari khas musim panas adalah kesempatan langka bagi saya di Belanda.

Musim panas tahun ini, saya dan istri mencoba satu hal baru di luar kebiasaan kami setiap liburan anak tiba selama satu tahun ini. Gowes. Atau, bersepeda ria. Menurut kami, inilah salah satu cara liburan yang tetap menyenangkan namun hemat. Pengalaman nggowes yang akan saya ceritakan berikut sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun selama perjalanan.

Gowes Rotterdam! Minggu, 2 Agustus, kami ‘berlibur’ ke Rotterdam dengan sepeda. Rumah sementara kami di Schiedam hanya terpaut beberapa ratus meter saja dari perbatasan dengan Rotterdam. Meski dekat dengan perbatasan, untuk mencapai pusat kota Rotterdam, kami masih harus bersepeda sekitar 6 km. Lumayan jauh bagi orang Indonesia jaman sekarang yang sebenarnya tidak terbiasa bersepeda. Walau demikian, niat awal kami bersepeda kali ini bukan untuk mencapai garis finish di suatu tempat di Rotterdam, melainkan untuk menikmati proses bersepedanya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum, bersepeda adalah bagian hidup orang Belanda. Karenanya, jalur sepeda memang sudah tertata dan terfasilitasi dengan baik, serta tentunya nyaman dan aman.

Tujuan gowes kami adalah Erasmusbrug, sebuah jembatan yang menjadi ikon Rotterdam. Jembatan berkawat ini menghubungkan sungai Nieuwe Mass yang membelah Rotterdam. Saking besarnya, Nieuwe Mass menjadi jalur lalu lalang kapal-kapal besar pengangkut kontainer barang. Aktivitas lalu lalang kapal di sungai ini mengingatkan saya tentang pelajaran geografi di sekolah dasar dan menengah dulu. Rotterdam adalah salah satu pelabuhan terbesar di Eropa, yang menjadi salah satu gerbang tersibuk di benua biru ini. Begitu katanya. Kami berangkat berbekal buku promo wisata beberapa kota Belanda kiriman gratis dari Nederlandse Spoorwegen (NS) -semacam PT KAI-nya Belanda. Dua buah sepeda menjadi kendaraan kami. Masing-masing sudah dilengkapi dengan boncengan untuk anak kami, sehingga ia leluasa memilih mau duduk bersama saya atau istri saya. 

Sepeda kami dengan latar belakang Erasmusbrug. Gambar ini diambil pada kunjungan pertama kami ke Erasmusbrug tahun 2014 lalu.

Dalam perjalanan menuju Erasmusbrug, kami sempat menyinggahi Rotterdam Centraal Station. Di depan stasiun kereta berarsitektur ‘tidak biasa’ ini kami beristirahat sebentar. Perjalanan ke Erasmusbrug kami lanjutkan melewati Coolsingel, jalan arteri yang terhubung dengan pusat kota Rotterdam. Di sisi jalan ini terdapat balai kota, atau stadhuis, yang megah berpadu dengan langit biru ketika kami melewatinya. Kami lewati pula Beurs, salah satu pusat perbelanjaan terbesar yang pernah saya temui di Belanda. Sesampainya di ujung Coolsingel, tibalah kami di bibir Erasmusbrug. Kami putuskan untuk menyeberangi Nieuwe Maas melalui jembatan itu. Jembatan besar nan kokoh tadi ternyata cukup stabil saat mobil, bus dan tram berlalu lalang melaluinya. Jalur sepeda dan pejalan kaki pun disediakan dengan ukuran yang cukup lapang, sehingga pengguna jalur ini dapat merasakan desiran angin sambil menikmati pemandangan sungai besar ini. Perjalanan mengesankan di jembatan ini berakhir di turunan di daerah Wilhelminaplein.

Peta perjalanan kami dari Rotterdam Centraal Station menuju Erasmusbrug (Sumber gambar: googlemaps)

Rotterdam Centraal Station
Stadhuis, atau semacam balai kota Rotterdam 
Erasmusbrug
Kami sengaja tidak memperpanjang perjalanan kami sesampainya di Wilhelminaplein. Pulang ke rumah adalah tujuan kami berikutnya. Namun, kami memutuskan untuk melewati jalur yang berbeda untuk pulang, yakni melewati dua jembatan besar yang lain di sisi timur Erasmusbrug, yakni Koninginnebrug dan Willemsbrug. Dalam perjalanan menuju kedua jembatan tersebut, kami menemukan tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat sembari melihat Nieuwe Maas beserta segala aktivitas perkapalannya. Di tempat ini, kami buka bekal yang kami bawa. Sekali lagi, ini adalah liburan hemat, jadi bekal ini sengaja kami persiapkan dari rumah untuk dinikmati di tempat tujuan. Lumayan, mie goreng dan irisan mangga cukup mengenyangkan perut setelah bersepeda dalam waktu yang relatif lama. Hehehe…

Di sini tempat kami beristirahat sambil menikmati pemandangan Nieuwe Maas
Kenyang dengan bekal kami, perjalanan dilanjutkan menyasar kedua jembatan besar yang saya sebut tadi. Koninginnebrug adalah yang pertama kali kami lewati. Jembatan yang tampak terbuat dari rangka-rangka baja ini tidaklah panjang, dan bentuknya lebih sederhana dari Erasmusbrug maupun Willemsbrug. Di samping jembatan ini, kami saksikan De Hef, bangunan berwarna hijau yang konon adalah jembatan kereta. Namun saat ini tampaknya sudah tidak difungsikan lagi.

Koninginnebrug
De Hef
Turun dari Koninginnebrug, kami masuk ke tanjakan lagi menuju Willemsbrug. Jembatan dengan rangka merah ini mengingatkan saya akan jembatan Suramadu yang pernah saya lewati. Walau jauh lebih kecil dari Suramadu, Willemsbrug juga mempunyai dua kaki utama yang kokoh dan menjulang tinggi. Seperti di dua jembatan yang sudah kami lalui, jalur sepeda yang lapang juga tersedia, sehingga memudahkan bagi saya untuk mengambil beberapa foto di atas jembatan tadi. Tur di Willemsbrug berakhir di salah satu sudut Rotterdam yang terkenal, yakni Oudehaven, atau pelabuhan tua, dimana beberapa kapal tua diparkir berjejer di sebuah pelabuhan kecil. Di sekelilingnya berderet restoran ala negeri barat. 

Lajur sepeda berdampingan dengan lajur bus dan mobil di Willemsbrug 

Willemsbrug

Perjalanan pulang kami berlanjut melewati Rotterdam Blaak. Di tempat ini berdiri Markthal, sebuah kompleks pertokoan besar yang masih relatif baru di Rotterdam. Yang juga menarik adalah Kubuswoningen atau rumah kubus, yang juga menjadi ikon Rotterdam dan terletak di dekat Markhal. 

Oudehaven dengan latar belakang Kubuswoningen  
Markthal

Kubuswoningen
Kali ini, kami sengaja tidak mampir ke tempat-tempat tersebut, karena jarum jam sudah menunjuk angka setengah tujuh sore. Beberapa waktu sebelumnya, kami juga sudah mengunjunginya. Keluar dari Blaak, kami bertemu lagi dengan Rotterdam Centraal Station dan beranjak pulang menuju jalur sepeda ke Schiedam lagi.